Bab 54. Nanti Malam Banget?

1K 80 12
                                        

Akhirnya, hari keberangkatan menuju Swiss tiba juga. Mas Afiq bilang, dua koper saja sudah cukup. Jika ada kurangnya, bisa beli di sana.

Baiklah, aku setuju. Dua koper saja sudah berat. Terlebih, kami berangkat bukan pada musim dingin. Yang mana tidak butuh coat tebal yang makan tempat. Soal baju hangat bawa seperlunya saja.

Kami pergi selama sepuluh hari, sudah termasuk pulang dan pergi. Tidak bisa diperpanjang lagi mengingat cuti Mas Afiq tebatas. Aku pun tak berani protes. Segitu juga sudah syukur mengingat kalau aku berangkat sendiri, tentu belum mampu.

Hehe!

Ngomong-ngomong, perjalanan menuju Swiss ini akan sedikit panjang. Pasalnya, kami harus melewati satu kali transit dan itu wajib.

Perjalanan Jogja ke Jakarta tidak bisa disebut transit. Karena anggap saja mulainya justru dari Jakarta— mengingat bandara Jogja belum banyak menyediakan penerbangan dengan jarak yang terlalu jauh.

Namun, Mas Afiq sudah memastikan kalau perjalanan kali ini tidak akan terlalu melelahkan dan minim jet lag. Selain waktu terbangnya sudah menyesuaikan jam tidur, pesawat yang dia pesan juga business class.

Jujur saja, pada titik ini akhirnya aku betul-betul menyadari kalau suamiku ini ternyata jauh lebih kaya dari yang pernah kubayangkan. Aku bahkan agak syok dengan keseluruhan harga tiketnya.

Itu baru tiket pesawat, belum hotel selama di sana. Mas Afiq juga bilang, perjalanan kami kali ini bukan hanya soal bulan madu, tetapi juga soal bersama-sama mencari pengalaman baru.

Ah, membayangkan saja sudah membuatku tidak bisa berhenti tersenyum. Pasti sangat menyenangkan!

"Ngantuk, Nin?" tanya Mas Afiq sembari meraih pipiku dan menekan-nekannya pelan.

Aku yang sedang menyandar padanya, langsung mendongak. "Iya, agak ngantuk."

By the way, saat ini kami sedang berada di Doha, Qatar. Ya, tempat kami transit.

Waktu transit tiga jam, dan kami sudah menyelesaikan semua prosesnya. Kini kami sudah berada di ruang tunggu, tinggal menunggu jadwal masuk pesawat.

"Wajar, karena sekarang udah tengah malam. Tahan dikit, ya? Nanti kalau udah masuk pesawat berikutnya, baru tidur."

"Mas sendiri, ngantuk atau enggak?"

"Enggak. Biasa aja."

"Kok bisa?"

"Tadi Mas udah banyak tidur soalnya."

"Aku pun, tapi entah kenapa masih ngantuk."

"Sebenarnya, ini poinnya. Kalau Mas ikut ngantuk, kamu gimana? Mau nyandar ke mana? Bisa ambruk, nanti."

Aku langsung nyengir, Mas Afiq pun menunduk menggesekkan hidung kami.

"Pokoknya, pejalanan kali ini kamu harus enjoy. Kalau punya keluhan, bilang aja. Jangan sungkan."

"Oke." Aku mengangguk pelan. "Ngomong-ngomong, besok sampai Zurich pagi, ya, Mas?"

"Betul. Kurang lebih jam setengah delapan sampai sana."

"Ada selisih jam soalnya, ya?"

"Iya."

"Baiklah!"

Pipiku kini kembali ditekan-tekan sampai bibirku mengerucut. Dari tatapan Mas Afiq saat ini, aku tahu apa yang dia mau.

"Tahan, Mas!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Inevitable Feelings Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang