7. Hesitate

284 36 1
                                        

Arhad berjalan menyusuri Bandara bersama dengan beberapa bawahannya seraya membawa koper. Hari ini ia ada penerbangan ke Luar Negeri. Karena itu, dirinya tidak akan bisa menemui Ruzeline selama beberapa hari.

Sejak tadi, Arhad terus kepikiran. Ayahnya pasti cepat atau lambat akan mengetahui keberadaan Ruzeline. Dan jika itu terjadi, Ruzeline tidak baik-baik saja.

"Kapten Arhad!"

Lamunan pria 22 tahun tersebut sontak buyar ketika pria dari arah berlawanan memanggilnya.

"Derrick, apa kabar?" kata Arhad sambil berjabat tangan.

Derrick von Houvel. Ia adalah Co-Pilot dari Arhad yang selalu bersama dengannya setiap penerbangan. Derrick merupakan seorang asli Belanda yang dihormati di Indonesia karena jasanya membantu Indonesia dalam mengendarai pesawat militer.

"Saya baik. Tetapi hari ini, saya tidak ikut penerbangan dengan anda. Akan ada yang menggantikan saya," ucap Derrick.

"Apa kau ada urusan?" tanya Arhad.

"Ada hal penting yang saya urus. Cukup mendesak."

"Baiklah, kira-kira kapan kau kembali?"

"Kira-kira 3 hari lagi, Tuan."

"Kalau begitu semoga berhasil."

"Terima kasih, hati-hati di penerbangan, Kapten Arhad."

***

Ruzeline bekerja dengan wajah kepikirannya setelah bertemu dengan Arhad di pagi buta. Tunangannya itu pamit untuk penerbangan jauh, tetapi Ruzeline melihat raut Arhad yang tampak masam.

"Apa yang terjadi padanya?" kata Ruzeline pelan.

"Apa yang terjadi pada siapa?" sebuah suara tiba-tiba menyahut perkatannya. Buru-buru Ruzeline bangkit dari mejanya.

"Bukan apa-apa Tuan Cakra. Oh ya, ada urusan apa ke ruangan saya Tuan?" ucap Ruzeline kepada bosnya itu.

"Untuk pesta yang diadakan Ardipara, saya belum memilih pasangan, karena itu saya ingin anda yang menjadi pasangan saya," kata Cakra.

"Eh, saya? Tapi saya bukan Nona Konglomerat..."

"Itu tidak masalah selama anda berdiri di sebelah Tuan rumah."

"Baik, Tuan. Saya akan menjadi pasangan anda."

"Kalau begitu nanti akan ada supir yang menjemput jam 7 malam. Kita bertemu di kediaman Ardipara."

"Baik."

***

Ruzeline menatap pantulan dirinya di cermin seraya menghela napas berat berulang kali. Hari ini ia akan pergi bersama Cakra untuk menghadiri pesta keluarganya.

Melihat gaun pemberian Arhad yang ia pakai di tubuhnya, gadis itu menjadi rindu. Ia harap Arhad baik-baik saja mengingat tampaknya pria itu dalam suasana hati yang buruk.

"Sayang, jemputannya sudah datang," teriak Nenek Tisna dari lantai bawah sehingga Ruzeline buru-buru turun.

"Cantiknya cucu Nenek," puji Nenek setelah melihat Ruzeline dengan gaun hitamnya.

"Terima kasih Nek. Aku pamit ya?"

"Iya Nak. Berhati-hatilah dan nikmati acaranya," ucap Nenek.

Ruzeline pun salim dengan punggung tangan Nenek. Setelahnya, ia pergi ke kediaman Ardipara dengan perasaan gugup.

Ini pertama kalinya ia pergi ke pesta formal yang berisikan orang-orang penting.

***

Ruzeline berjalan dengan gugup dipandu oleh pelayan kediaman Ardipara. Mereka membawanya menuju tempat Cakra berada, yaitu ke kamarnya, karena ia sedang bersiap.

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang