41. Ranabraha: The Greatest Asian Empire

163 14 2
                                        

KERAJAAN RANABRAHA
── Istana Kerajaan, 19 Juli 1338

Seorang gadis kecil berusia 8 tahun tengah menghadiri pesta ulang tahun sang Raja dari Ranabraha. Airishena, nama gadis itu. Ia datang bersama Ayahanda dan Ibundanya yang menggandeng tangannya. Ini adalah debut Airishena di Istana.

"Kita beri salam pada Yang Mulia Raja terlebih dahulu. Airishena ingat kan etika yang diajarkan untuk memberi salam pada keluarga Kerajaan?" Ibunya, Istara, bertanya untuk memastikan.

"Shena ingat!" Airishena mengangguk mantap.

"Putriku memang yang paling pintar," puji Ayahnya──Praha, sang Adipati wilayah Prabuwana, yang menggandeng tangan kirinya.

Akhirnya keluarga Prabuwana sampai di depan singgasana keluarga Kerajaan. Di sana berdiri sang Raja dan Ratu, beserta kedua putra mereka, Raishan dan Adhiswara.

"Selamat ulang tahun, Yang Mulia Raja," ucap pasangan Prabuwana bersamaan seraya membungkuk hormat, dan berdiri tegak kembali.

"Selamat ulang tahun, Yang Mulia Raja," kali ini Airishena yang memberi hormat, setelah yang lebih tua memberi hormat terlebih dahulu.

"Terima kasih telah datang di pesta ulang tahunku," ucap sang Raja.

"Sebuah kehormatan bagi kami, Yang Mulia," Airishena membalas ucapan sang Raja. Praha dan Istara pun menatap putri mereka penuh rasa bangga.

"Ya Ampun, pintar sekali. Mengingatkanku pada Raishan," Ratu membuka mulutnya senang.

"Benar sekali. Apa haruskah kami menjodohkan Nona Airishena dengan Putra Mahkota? Bagaimana, Adipati dan Adipatni Prabuwana?" tawar Raja.

Sang Putra Mahkota yang mendengarnya pun tak memberikan reaksi apa-apa. Wajahnya datar sejak awal. Berbeda dengan Airishena yang kebingungan dengan ucapan tiba-tiba Raja.

"Terima kasih atas tawarannya. Tetapi putriku masih terlalu kecil, Yang Mulia," tolak Praha halus, "Kecuali jika dia menginginkan ini, aku pun tak akan menolak."

"Sayang sekali ya, Adipati. Kalau begitu bagaimana Nona kecil? Kau ingin dijodohkan dengan Putra Mahkota?" tanya Raja.

Airishena pun menampakkan senyuman imutnya, "Saya berterima kasih atas tawarannya. Tetapi saya hanya akan menikah dengan orang yang saya cintai," jawab Airishena bijak.

"Jika Nona kecil berpikir begitu, mau bagaimana lagi?" kekeh Ratu, "Tetapi aku harap kau bisa tetap dekat dengan Putra Mahkota Raishan ya."

"Tentu!" balas Airishena. Matanya lalu melirik pada Putra Mahkota yang juga tengah meliriknya.

Dengan jahil, Airishena mengedipkan sebelah matanya pada Raishan. Wink dari sang gadis sontak membuat Raishan menunjukkan ekspresi kaget. Airishena memang sengaja begitu, karena ia penasaran apa Raishan bisa berekspresi apa tidak.

Para orang tua pun tertawa ketika menyadari hal tersebut. Raishan mendadak menjadi malu-malu. Ia pun berdehem dan kembali mengubah ekspresinya menjadi datar. Berbeda dengan Airishena yang masih tersenyum.

"Kalau begitu kami pamit, Yang Mulia," ucap Praha.

Setelah berpamitan, keluarga Prabuwana melangkah menjauh dari singgasana.

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang