12. President's Birthday Party

221 33 2
                                        

Cakra terbaring menatap langit-langit kamarnya. Jika dipikir, kapan ia mulai memendam rasa? Jawabannya, sejak ia pertama kali melihat gadis itu.

Beberapa bulan yang lalu

Pria 25 tahun dengan jabatan mentereng itu duduk dengan perasaan gundah. Padahal, ia berinisiatif untuk mewawancarai calon pegawai sendiri. Tapi, tak ada yang sesuai ekspektasinya.

"Permisi."

Suara itu menarik atensi Cakra. Ia menengadah, melihat siapa yang menjadi sumber dari suara itu.

Seorang perempuan dengan paras rupawan bak seorang Dewi. Aura positif yang ia pancarkan, dan senyum halusnya.

Cakra, ia menyukai senyuman itu.

Senyuman yang cukup untuk meluluhkan hatinya.

"Silakan duduk di sana," ia mencoba profesional. Menunjuk bangku, yang ada di hadapannya.

"Terima kasih Tuan."

"Baiklah, kalau begitu kita mulai wawancaranya."

Saat Ruzeline memperkenalkan diri, Cakra tersenyum dengan fakta bahwa Ruzeline lumayan mirip dengan Ibunya. Ibu Cakra pasti akan menyukai gadis itu. Ia harus menceritakan tentang Ruzeline.

Setelah itu, Cakra mulai melempar banyak pertanyaan. Ia tak mau menghilangkan profesionalnya dengan memilih Ruzeline asal-asalan karena ia lumayan menyukai gadis itu.

Tapi, semakin Ruzeline begitu lihai dalam menjawab semua hal. Cakra semakin kagum terhadapnya. Gadis itu, di mata Cakra, ia sempurna.

Itulah bagaimana Cakra mulai menaruh rasa pada Ruzeline.

Kembali ke masa sekarang

"Maaf, karena telah menyukaimu."

Pada akhirnya, Cakra harus memendam perasaan itu sendirian.

***

"....Apa?!"

Artha terkejut mendengar bahwa kata Askar, sepupu mereka yaitu Arhad akan datang bersama tunangan barunya.

"Aku juga baru mendengar hal ini. Kalau aku tau, aku akan melarangmu mengajak Zelly."

"Zelly? Siapa itu Zelly?!"

"Ruzeline. Nama panggilan dariku."

"Kakak gila?! Memang kalian sedekat apa sampai memanggil dengan nama panggilan?"

"Hei, aku memang dekat dengannya, jangan salah!"

"Cih, terserahmu saja."

"Lalu, Artha, apa kau sudah memikirkan solusi?"

"Ini menyiksaku. Kak Arhad harusnya bilang bahwa dia telah bertunangan dengan orang lain."

Askar meletakkan pulpennya di atas meja. Ia lalu memutar kursi pimpinannya, sehingga dirinya menghadap pada jendela.

"Kabar ini sudah tersebar di koran. Meski pesta pertunangan belum diadakan, tetapi kedua keluarga sudah menandatangani perjanjian. Jadi, Zelly pasti tau," prasangka Askar.

"Apa aku batalkan saja pergi bersama Kak Ruzeline?"

"Tidak. Tak perlu. Justru ini momentum yang tepat. Di sana Zelly dan Arhad bisa berbicara."

"Baiklah."

***

"Huuh, mengapa semua baju begitu mahal?"

Ruzeline menghempaskan dirinya ke kasur rumahnya. Ia baru saja pulang dari toko baju, tapi, tak ada yang ia beli mengingat semuanya mahal.

Arhad memberikannya banyak gaun. Banyak sekali. Tetapi, sebenarnya ia tau bahwa Arhad akan menghadiri pesta ini bersama tunangan barunya, jadi, ia tak mau memakai hal yang berhubungan dengannya.

Pyramid: TemaramCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang