Gadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950.
❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta
Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada?
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bumantara Hotel's Hall The Engagement Room
Ruzeline tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin ruang ganti. Ia mengenakan gaun berwarna cream yang dipadukan dengan anting dan kalung berlian. Penampilannya terkesan sederhana, membuat wajah cantik naturalnya jadi terpancar dengan indah.
"Astaga, putri Mama cantik sekali!"
Ishita datang dengan wajah berseri-seri. Ia senang anaknya itu akan menjalin kasih dengan orang yang benar-benar dicintainya.
"Anak Papa tampak seperti Tuan Putri," Yuda datang dari belakang Ishita dengan senyumannya.
Selama 2 bulan ini, banyak yang berubah. Salah satunya adalah Ruzeline yang mengganti panggilan pada orang tuanya dengan 'Mama' 'Papa'.
"Kau harus tau berapa banyak kenalanku yang bersedih karena ternyata kau sudah memiliki hubungan dengan Arhad," kata Hada.
Setelah Ruzeline diumumkan sebagai putri dari Mahatama yang telah lama disembunyikan dari media, banyak orang yang langsung menyukainya.
Meski ia pernah muncul dengan marga Belanda di pesta, Yuda bisa memberi alibi bahwa marga Belanda tersebut hanya penyamaran untuk menutupi identitas asli Ruzeline. Orang-orang pun percaya.
Pada dasarnya, wajah gadis tersebut hampir tak seperti orang Belanda. Hanya rambut cokelatnya yang membuat Ruzeline terlihat seperti orang asing. Yuda memberi alibi bahwa rambutnya adalah genetik dari pendahulu Mahatama.
"Pesta akan segera dimulai. Arhad akan menyematkan cincin di tanganmu. Mari keluar," ajak Ishita.
"Iya, Mama."
***
"Wah, dia cantik sekali."
"Apa dia Tuan Putri dari negeri dongeng?"
"Mendadak aku jatuh cinta."
"Gaun dan perhiasan yang ia kenakan sangat mahal! Level Mahatama memang jauh."
"Sungguh, mereka akan menjadi pasangan yang serasi."
Mendengar pendapat orang-orang ketika dirinya memasuki aula. Ruzeline tersenyum tipis. Apalagi saat ia mendengar orang mengatakan bahwa ia dan Arhad adalah pasangan serasi.
Di panggung, Arhad hanya bisa menatap kagum Ruzeline yang berjalan ke arahnya.