Arhad berjalan masuk ke dalam kediaman mewah sang Kakek yang berada cukup terisolasi dari kota. Ketika dirinya datang, para pelayan menyambutnya dengan hormat.
Sambil menilik keadaan di mansion ini, Arhad berjalan ke kamar tempat Kakeknya berada. Di sana, sang Kakek tengah membaca koran tentang Arhad.
"Cucuku, kau sudah datang," ucap Kakeknya, Maharaja Sangga Bumantara, singkatnya Sangga.
"Lama tak bertemu Kek," kata Arhad, memeluk singkat Sangga sebelum duduk di sofa hadapan pria lanjut usia tersebut.
"Kau sudah bertunangan ya," ucap Sangga seraya menunjukkan isi koran yang ia pegang.
"Begitulah," jawab Arhad tak bersemangat.
"Bagaimana Nona itu? Apa dia baik?" tanya Sangga seraya menyesap minumannya.
"Dia baik."
"Lalu?"
"Yah, aku hanya tau bahwa dia baik."
Keheningan pun muncul. Atmosfer ruangan menjadi begitu hening.
"Kau tak menyukainya rupanya," Sangga menyimpulkan. Menaruh korannya ke atas meja.
"Itulah mengapa aku ingin pertunangan ini dibatalkan," pinta Arhad dengan wajah muram.
"Ada apa cucuku? Mengapa kau tampak tak menyukai pertunangan ini?"
"Aku punya orang yang aku cintai."
Jawaban jujur Arhad membuat Kakeknya tersenyum miris. Sangga lalu berdiri, mengajak Arhad ikut bersamanya ke meja yang terletak di sudut kamarnya.
"Ada apa Kek?" bingung Arhad, melihat Kakeknya membuka laci yang ada pada meja itu.
Sebuah bingkai foto ia keluarkan dari sana. Foto dengan kualitas putih abu tersebut menunjukkan gambar masa muda Kakeknya dengan seorang gadis.
"Ini bukan Nenek," Arhad menyimpulkan.
"Memang bukan," Kakeknya tersenyum menatap foto itu, "Dia cinta pertamaku."
"Tunggu, apa?!" Arhad memekik kaget. Seumur hidup, ia baru pertama kali mendengarnya.
"Ceritanya panjang," ucap Sangga, "Saat itu adalah masa penjajahan. Aku menjadi sukarelawan dalam perang mengingat kemampuan bertarung yang aku miliki. Di sanalah aku bertemu dengannya."
Arhad mendengarkan dengan saksama.
"Saat itu aku melihatnya yang dengan berani melindungi orang-orang yang kesakitan tanpa ada keraguan di matanya. Disitulah aku jatuh cinta," Sangga lalu menghela napasnya, "Iya, kami akhirnya dekat. Tapi orang tuaku tentu saja tak setuju."
"Arhad, Bumantara adalah keluarga yang sudah sangat jaya bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Dahulu Bumantara adalah Keluarga Bangsawan yang memegang gelar Adipati dan menguasai wilayah. Dengan begitu kau seharusnya tau kan, betapa tingginya Bumantara yang kau sematkan dalam namamu itu?"
"Orang tuaku tak ingin kejayaan itu tercoreng hanya karena pemimpin keluarga yang tak berkomitmen dan lebih mementingkan cinta. Karena itu mereka mengatur perjodohan. Pada akhirnya aku menikahi gadis lain dan tak bertemu dengannya lagi."
"Apa sebagai Bumantara, kami tak boleh bahagia dan hidup bersama orang yang kami inginkan?" tanya Arhad sedih.
"Dengan kekuatan besar, datang tanggung jawab yang besar. Setidaknya karena terlahir dari keluarga yang berkecukupan, itu adalah hal yang harus kau emban," nasihat Kakek.
"Tapi..."
Sangga menggantung ucapannya.
"Aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dahulu aku menjodohkan Mahadra dengan Tiana hanya karena aku merasa tak adil jika apa yang dilakukan padaku tak terulang pada anakku. Tiana adalah keturunan langsung Kekaisaran besar Ranabraha, dengan begitu aku bersikeras menjadikannya sebagai menantu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pyramid: Temaram
RomanceGadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950. ❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada? ...
