46. Mr and Mrs. Bumantara

114 9 13
                                        

A/N : Upload tepat satu tahun setelah last update. Big thanks buat yang udah nunggu♡

***

Ruzeline mengerjapkan matanya berulang kali, menyesuaikan dengan cahaya. Menengok ke sebelahnya, ada Arhad yang tengah berbaring dengan tangan yang memeluk Ruzeline.

"Arhad, bangun. Kau harus bekerja," Ruzeline membangunkan.

"Sepuluh menit lagi. Aku mengantuk," rengek Arhad.

"Baiklah, baiklah."

Ruzeline pun bangkit dari kasurnya. Ia menyingkap gorden, membuat sinar matahari masuk ke dalam kamar.

"Sayang, tutup lagi," mohon Arhad, menelungkupkan kepalanya di bantal.

"Kau ini rewel sekali," cibir Ruzeline.

Ia tak menutup kembali gordennya. Sehingga Arhad bangun dari tidurnya. Sedangkan Ruzeline tengah menyisir rambut di depan meja rias.

Saat nyawanya sudah terkumpul, Arhad bangun dari kasur. Ia lalu berjalan ke arah Ruzeline.

"Ah! Arhad!"

Ruzeline kaget saat Arhad mengangkat tubuhnya seperti karung. Pria itu membawa Ruzeline sampai ke kasur, lalu mendaratkan Ruzeline di sana.

"Ayo kita tidur lagi," ajak Arhad.

"Apa sih. Kau harus bangun, sayang."

"Aku terlalu sering di kantor, aku mau menghabiskan waktu denganmu, Zelly," keluhnya.

"Kan semalam sudah."

"Kurang. Aku mau tidak masuk saja hari ini."

"Jangan begitu. Kau kan bosnya. Kau harus mencontohkan yang baik," omel Ruzeline.

"Justru karena aku bosnya, semua terserah padaku," sanggah Arhad.

"Penyalahgunaan kekuasaan!"

"Hehe. Biarkan saja. Aku Arhad Bumantara. Siapa yang mau protes?"

"Aku, Ruzeline Bumantara, yang akan protes."

"Kalau Nyonya Bumantara tidak mendukung Tuan Bumantara, aku akan sangat sedih," kata Arhad dramatis.

"Duh, sana bersiap."

"Tidak mau! Aku mau bersamamu!"

"Madaharsa Arhad Bumantara. Jangan malas ke kantor, atau aku akan mendiamimu selama berminggu-minggu!" ancam Ruzeline.

Pada akhirnya Arhad menyerah. Ia meraih Ruzeline ke pelukannya selama beberapa detik. Setelah itu ia berjalan ke kamar mandi untuk bersiap memulai hari.

***

"Dia bersikap manja sekali, sampai aku merasa seperti mengurus balita."

Ruzeline yang tengah berkebun dengan Amika, mengadu pada Kakak Iparnya itu. Amika terkekeh mendengar Ruzeline yang mengeluh.

"Itu normal. Kalian baru menikah, jadi Arhad tak mau jauh-jauh darimu," kata Amika.

"Tapi dia menempel terus seperti lem. Apa Kakak tau? Jika Arhad di rumah, saat aku ke mana-mana, dia akan ikut. Bahkan saat aku di kamar mandi, Arhad akan menunggu di depan," adu Ruzeline seraya menyemprot air ke bunga di taman.

"Oh, hal bagusnya ia tidak ikut masuk ke kamar mandi. Tidak apa," kata Amika jahil.

"Kakak, jangan begitu," wajah Ruzeline memerah.

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang