4. New Boss, Mr. President, and Dinner

357 46 1
                                        

"Aku ingin melamar pekerjaan."

Arhad yang tengah menyesap kopinya, lantas tersedak mendengar perkataan Ruzeline.

"Tidak! Tidak usah bekerja, aku yang akan menafkahimu," larang Arhad.

"Aku tidak perlu hal itu Arhad. Lagi pula ini keinginanku untuk bekerja. Agar aku mengetahui dunia lebih lanjut lagi," ucap Ruzeline.

"Kalau begitu, bekerjalah di perusahaanku!"

"Itu terdengar sedikit tidak adil jika aku masuk semudah itu."

"Apanya yang tak adil? Kau itu sangat berbakat, Ruzeline."

"Tetap saja, aku ingin berusaha sendiri. Tetapi, terima kasih atas tawaranmu Arhad."

Melihat tunangannya yang sudah membulatkan tekad, Arhad mana bisa melarangnya?

"Baiklah. Tetapi tawaranku akan berlaku sampai kapan pun. Kau bisa mengambilnya kapan saja."

"Terima kasih Arhad."

***

"Anda akan diwawancara langsung oleh Presiden Direktur."

"Eh? Dengan Presiden Direktur?!"

"Iya. Kebetulan hari ini beliau senggang, jadi beliau ingin mewawancara calon pegawai baru. Nah, silakan tunggu di bangku yang ada di sana sampai anda dipanggil.

"Ah baiklah, terima kasih."

Ruzeline mengatupkan bibirnya panik. Biasanya, yang mewawancarainya biasanya bukan seorang Presiden Direktur langsung, melainkan bawahannya.

Selama beberapa menit menunggu, akhirnya,

"Nona Ruzeline van der Meyer, silakan ikuti saya," kata salah seorang pegawai, menuntun Ruzeline ke ruangan Presdir.

"Ini ruangan Presdir. Anda bisa mengetuk dahulu. Saat ia mempersilakan masuk, anda bisa masuk," kata wanita itu.

"Baiklah, terima kasih," ucap Ruzeline. Wanita tersebut lantas meninggalkan Ruzeline di depan ruangan.

Ruzeline pun mengetuk beberapa kali.

"Masuk," sahut suara dari dalam.

Pelan-pelan, ia membuka pintu ruangan. Di sana ia mendapati seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya.

"Permisi," ucap Ruzeline, lalu menutup pintu ruangan dari dalam. Setelahnya ia berjalan mendekat.

"Silakan duduk di sana," kata pria itu, menunjuk bangku yang ada di dekat Ruzeline.

"Terima kasih Tuan."

"Baiklah, kalau begitu kita mulai wawancaranya."

Pramananda Cakra Ardipara—Cakra. Presiden Direktur berusia 25 tahun itu berkata. Ia merupakan pemilik jabatan tertinggi di perusahaan keluarganya, yaitu Ardipara Group, yang bergerak di bidang eksplorasi, pertambangan, pemprosesan, dan pemasaran konsentrat tembaga, emas, dan perak.

"Kau bisa mulai memperkenalkan diri," ucap Cakra.

Ruzeline lantas memperkenalkan diri seperti kata Cakra. Setelahnya, pria itu melemparkan banyak pertanyaan ke Ruzeline, mulai dari pertanyaan yang begitu susah, bahkan sampai hal-hal sepele.

Tetapi untungnya, Ruzeline bisa menjawab semuanya.

"Kalau begitu, wawancara dicukupkan untuk hari ini," kata Cakra.

Ruzeline mengangguk. Belum pernah ia diwawancara dengan waktu yang begitu lama. Ini pertama kali.

"Terima kasih, Tuan. Saya pamit," ucap Ruzeline bersiap pergi.

Pyramid: TemaramCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang