Gadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950.
❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta
Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada?
...
Berhari-hari, tetapi Ruzeline masih tetap tidak bisa ditemukan. Bahkan semuanya sudah begitu panik dengan apa yang terjadi pada Ruzeline.
Arhad, Cakra, Ren, Rasi, Artha, Nararya, serta Amika, tengah berkumpul di Kediaman Bumantara untuk membahas kemungkinan keberadaan Ruzeline.
Rahan masih dalam pemulihan luka, Yuda dan Hada sedang mencari Ruzeline, lalu Ishita dan Tiana juga sedang membantu.
"Perasaan yang aku rasakan berbeda dengan saat Ruzeline menghilang selama 3 bulan itu," ucap Arhad.
"Aku juga. Saat itu aku tidak seputus asa ini," timpal Cakra.
"Kakak pasti bisa ditemukan, 'kan?" tanya Rasi pada Artha yang ada di sebelahnya.
"Dia pasti akan kembali dengan selamat," balas Artha.
"Aku akan menyakiti orang yang melakukan ini pada Kakak," ucap Ren berapi-api.
"Apa salah Ruzeline sehingga ia harus melalui kehidupan yang berat sejak dahulu," sedih Amika, memikirkan apa yang telah Ruzeline alami selama ini.
"Dia gadis yang kuat," kata Nararya.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dining Room The White House
Sekarang, Askar tengah berada di Gedung Putih, setelah mendapat undangan jamuan dari Presiden Amerika Serikat. Ia diundang untuk berbicara perihal bisnis serta pencapaiannya yang luar biasa.
Bahkan, Presiden AS sampai mengundang Askar ke ruang makan pribadi yang biasa ia gunakan. Bukan ruang makan yang khusus digunakan untuk jamuan.
"It's such a great time to have a conversation with you, Mr. Askar," kata sang Presiden. Bahkan sudah memanggil Askar dengan nama depannya.
"I enjoy this very moment. Thank you for inviting me," balasnya.
"I hope you will be Indonesia's next President, so we can have many cooperation for the two countries," ucap Presiden.
"Such a brave thing to say, Mr. President," kekeh Askar. Diikuti sang Bapak Negara.
"It's such a pleasure. Hope we'll meet again soon," ia menjabat tangan Askar, yang lalu dibalas oleh pria itu.
"It's such a pleasure for me too. I hope so as well."
Setelah saling berpamitan, Askar melangkahkan kaki untuk keluar dari Gedung Putih. Di halaman, banyak orang yang memotretnya. Hal yang biasa ia alami.
Tak butuh waktu lama, Askar sampai ke mansion miliknya yang berada di New York untuk beristirahat sejenak. Di sana, ia melihat surat dari Adiknya.