29. Things You Can't Control

191 23 4
                                        

Arhad yang tengah sibuk dengan dokumennya, tiba-tiba diganggu dengan telepon kabel yang berbunyi.

"Biar aku saja."

Ruzeline yang ada di ruang kerja Arhad setelah mengantar bekal, menawarkan diri untuk membantu pria itu. Arhad pun tersenyum mengangguk.

Telepon di ruangan Arhad hanya bisa dihubungi orang-orang yang memiliki koneksi dengan Bumantara. Jadi tak akan sulit bagi Ruzeline untuk menanggapi telepon itu.

"Dengan Bumantara Airport & Airlines. Ada yang bisa kami bantu?"

"Halo, apa saya bisa berbicara Kapten Arhad?"

Suara dari seberang telepon membuat Ruzeline mengernyit. Orang itu kenal Arhad secara pribadi. Tampaknya telepon penting.

"Arhad, sepertinya kau harus mengangkatnya," Ruzeline memberikan telepon itu ke Arhad, yang langsung diterima.

"Arhad Bumantara berbicara," ucap Arhad pada orang di seberang panggilan.

"Kapten, ini saya Derrick."

Arhad mengernyit mendengar siapa orang dibalik panggilan itu. Derrick tak pernah menelepon. Jika ada hal penting pun, ia hanya mengirim surat.

"Ada apa Derrick?"

"Bisakah saya datang ke kantor anda sekarang? Ada hal penting yang harus saya bicarakan."

"Kau bisa datang sekarang."

"Terima kasih banyak, Kapten Arhad."

Arhad lantas menaruh kembali telepon tersebut. Matanya tertuju kepada Ruzeline yang ada di hadapannya.

"Dia Co-Pilot di maskapai ku. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan," jelas Arhad.

"Begitu rupanya. Kalau begitu sepertinya aku pamit pulang," ucap gadis itu.

"Tidak. Kau tetap di sini temani aku ya? Bisakah?" pinta Arhad layaknya bocah.

"Tapi bukankah kau akan mendiskusikan hal penting?"

"Kau calon Nyonya Bumantara. Tak ada salahnya untuk ikut dalam perbincangan ini."

***

Derrick berjalan menuju ruangan Arhad bersama seorang gadis dengan pakaian bertudung yang menutupi wajahnya. Ia adalah Kirana.

"Saya sudah membuat janji dengan Kapten Arhad," ucap Derrick kepada Dierja.

"Iya. Silakan ikut saya, Tuan Derrick," Dierja menuntun pria tersebut ke ruangan Arhad.

Di depan ruangan, Dierja mengetuk terlebih dahulu. Tak lama setelahnya, pintu terbuka menampakkan Ruzeline.

"Eh Nona? Saya bisa membuka pintunya sendiri," kata Dierja, tersenyum.

"Aku bosan hanya duduk. Silakan masuk," Ruzeline mempersilakan. Netranya lalu terarah pada perempuan dengan pakaian bertudung itu.

Derrick dan perempuan itu, Kirana, memasuki ruangan. Setelahnya, Dierja berpamitan untuk kembali bekerja pada Ruzeline. Gadis itu pun lantas menutup pintu ruangan Arhad.

Melihat kedatangan Derrick, Arhad bangkit dari bangku kebesarannya dan mempersilakan Derrick dan Kirana duduk di sofa.

Menggandeng tangan Ruzeline, Arhad menarik gadis itu untuk duduk di sebelahnya. Berhadapan dengan Derrick dan Kirana.

"Sebelum kau berbicara, aku akan bertanya terlebih dahulu siapa orang di sebelahmu itu?" ucap Arhad tegas.

"Bukalah. Tak masalah," ucap Derrick pada Kirana.

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang