Ruzeline POV : 1947
"Apa Kakak masih belum pulang?"
Aku bertanya kepada Paman dan Bibi setibanya kami di rumah pada jam 2 pagi. Mereka pun menggeleng sebagai jawaban.
"Mungkin Kakakmu sedang menyiapkan hadiah," kata Paman.
"Benar. Dia suka memberi hadiah unik," timpal Bibi.
Memang benar. Selama ini, Kak Rahan selalu memberiku hadiah terbaik. Di ulang tahun kemarin, ia memberiku kuda poni yang sangat imut. Ternyata kuda poni itu dia beli dari Luar Negeri dan telah ia cari beberapa saat.
"Aku hanya butuh ia datang," ucapku dengan senyuman.
Bibi lalu mengelus pipiku lembut, "Iya, dia pasti akan datang melihatmu Rania."
"Sekarang bagaimana jika kau tidur? Ini sudah larut malam," kata Paman. Aku pun mengangguk.
"Selamat malam, Paman, Bibi," ucapku sebelum naik ke atas, menuju kamar.
🕦
Aku melepas wig hitamku yang biasa aku pakai saat menjadi Rania. Alasannya adalah rambut asliku berwarna kecoklatan. Agar seperti pribumi dan seperti Rania, aku memakainya.
Mataku lantas melirik pada benda yang melingkar di leherku dengan indah. Aku tersenyum pada benda itu sebelum melepas dan menaruhnya ke nakas.
Kalung dari Kak Rahan, hadiah pertamanya. Karena itu lah aku tidak pernah memakainya tidur, karena takut kalung tersebut rusak.
"Selamat malam," ucapku pada diriku, lalu terlelap di alam mimpi.
🕚
Author POV
Pria dengan baju penuh darah itu berjalan dengan bau alkohol yang timbul dari tubuhnya.
Pemandangan yang lama tak terlihat.
"Selamat datang, Tuan Rahan."
Para pelayan menyapa pria itu, Rahan, dengan ramah. Sebaliknya, pria tersebut tak menghiraukan. Ia berbalik ketika teringat sesuatu.
"Di mana dia?" tanyanya, membuat para pelayan bingung.
"Maaf, tapi siapa yang anda maksud, Tuan?" tanya kepala pelayan bingung.
"Dia. Ruzeline van der Meyer."
"Nona Rania? Dia sudah tidur," kata sang kepala pelayan.
Rahan menyeringai sinis, "Dia pasti menikmati ulang tahunnya."
Kakinya lantas melangkah ke lantai atas, menuju kamar Ruzeline yang sudah terlelap. Mengingat Tuan Muda mereka telah pulang ke rumah, para pelayan akhirnya pergi dari mansion utama ke paviliun untuk tidur.
Meninggalkan empat orang anggota keluarga itu di dalam mansion sendirian.
Cklek
Tanpa mengetuk, Rahan membuka kamar Ruzeline. Matanya penuh kekosongan, layaknya orang yang kehilangan semangat.
"Gadis sialan yang tak berguna," umpatnya, "Kau seharusnya bisa menggantikan Rania dengan benar sehingga Ayah Ibu memikirkanmu untuk mewarisi perusahaan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pyramid: Temaram
RomanceGadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950. ❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada? ...
