Gadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950.
❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta
Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada?
...
Sorot lampu kamera menghujani Arhad, Askar dan juga Presiden Romania yang telah mencapai kesepakatan kerjasama. Ini akan tercatat dalam sejarah.
"It's such a pleasure to work with Mr. Bumantara and Mr. Amurwabhumi, Indonesia's young talent and future," puji Presiden Romania.
"Thank you. And the same goes for us, Mr. President," kata Arhad, menjabat tangan sang Presiden.
Ketiganya pun berbincang sejenak setelah mencapai mufakat. Para Wartawan dan Perdana Menteri yang ikut menyaksikan ini dibuat terpana oleh ketampanan Arhad dan Askar.
Tak hanya tampan, mereka juga pintar, kaya raya, dan berkuasa.
Benar-benar sempurna.
Setelah kerjasama berhasil terjalin, nama mereka pun menjadi trending di berbagai Negara setelah koran yang diterbitkan di Romania menjadi viral.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Sementara itu di Indonesia, Ruzeline tengah menyiapkan makanan dan minuman untuk Cakra dan Rasi yang datang berkunjung ke kedai di pagi hari.
"Saya harap kalian menyukainya," ucap Ruzeline, menaruh piring-piring dan gelas ke meja.
"Terima kasih, Kak!" ucap Rasi sumringah, lalu melahap masakan Ruzeline dengan berbinar-binar.
Berbeda dengan sang adik, Cakra malah terdiam. Ruzeline pun duduk di kursi, lalu membuka mulutnya,
"Saya sudah menghindari bahan yang bisa memicu alergi Tuan Cakra. Anda bisa memakannya."
Cakra sedikit terlonjak, "Anda tau apa saja alergi saya?"
"Ibu Mirian yang memberitahunya."
Tawa pun lolos dari bibir Cakra. Mendengar penuturan Ruzeline, ia lalu ikut menyantap makanan buatan gadis blasteran tersebut.
"Kakak tidak ikut makan?" tanya Rasi.
"Aku sudah makan," balas Ruzeline. Tersenyum.
"Oh iya. Bisakah anda menceritakan bagaimana anda bisa bertemu dengan Rasi, Nona? Anda juga tampak tak terkejut tadi saat saya bilang kami adalah Kakak dan Adik."
"Saya bertemu dengan Rasi saat tersesat di taman. Kami berbincang sejenak, lalu saat itu, saya menerka-nerka perkataan Rasi dan mendapati fakta bahwa anda dan Rasi pasti adalah Kakak beradik," jelasnya.
"Begitu ya," Cakra mengangguk-angguk.
Ketiganya lantas berbincang-bincang singkat untuk mencairkan suasana, sampai pada akhirnya, pintu kedai kembali terbuka.