ZÜRICH, SWISS
Askar bangkit dari kursinya setelah selesai dengan tugasnya untuk menjalin hubungan bilateral bersama dengan Swiss. Sebagai Wakil Presiden, ia menjadi perwakilan dari negaranya.
"Your skill is so amazing, despite the fact that you're still so young. Even your knowledge is far better than mine."
Presiden Swiss mendekat ke arah Askar sebelum pria itu meninggalkan ruangan.
"You're flattering me too much, Sir. There are still so many things for me to learn," Askar tersenyum.
"I think Mr. Amurwabhumi is the finest gentleman I've ever met," puji Presiden yang kagum melihat kepiawaian Askar.
"Just call me Askar, Sir."
"Ah yes, Askar. Call me 'Uncle' too. It'd be great for us to meet again soon."
"I'd like that."
"Do you plan to marry soon?" tanya Presiden tiba-tiba, membuat Askar sedikit terkejut.
"Pardon?"
Presiden terkekeh, ia lantas menepuk-nepuk pundak Askar, "I have a daughter. Would you like to marry her? I've started to like you a lot, Askar, maybe you can be my Son-In-Law."
"I already have someone in my heart, Uncle. I'm sorry," tolak Askar dengan halus.
Walau ia tau, ia juga tidak punya kesempatan dengan wanita yang berada di hatinya itu.
"No, no, you don't have to apologize. I wish you good luck with the one in your heart. She must be an amazing woman," tebak Presiden.
"She is. Besides my mother, she's the most amazing woman I've ever met," tanpa Askar sadari, senyuman tiba-tiba terukir di wajahnya.
"Ahaaa, you're so in love, Askar. It reminds me of the old days with my wife before we married. What a wonderful youth," Presiden jadi teringat masa mudanya dengan sang Istri.
"That must have been fun. Even now, you two still seem so romantic after all these years. That's truly heartwarming."
"Thank you, Askar. Ah, anyway, I've kept you here too long. You must be busy," Presiden melirik ke jam dinding.
"Not at all, Uncle. It's been a pleasure talking with you."
"Next time, let's meet more informally. You're like a son to me," ajak Presiden dengan ramah.
"I will. See you next time, Uncle," Askar berjabat tangan dengan sang Presiden.
"Yes, Askar. See you."
Askar lantas meninggalkan ruangan, Zadka sebagai Sekretaris Askar, sudah menunggu pria itu.
"Apa lancar, Tuan?" tanyanya.
"Sesuai dengan keinginanku. Negosiasi adalah ranahku," kata Askar.
"Ah iya, pertemuan dengan Tuan Carl masih sekitar satu jam lagi. Apa Tuan mau berjalan-jalan dulu?" tanya Zadka saat mereka berada di depan mobil.
"Ya, mungkin. Aku ingin berjalan-jalan di pasar Swiss."
"Baik, Tuan."
***
Askar dan Zadka berjalan beriringan menyusuri jalanan Kota Zürich, seraya berbincang-bincang mengenai beberapa hal.
"Jadi, Tuan lebih menyukai menjadi Wakil Presiden atau Menteri?" tanya Zadka.
"Sama saja," balas Askar.
"──aku lebih suka jika aku menjadi Arhad Bumantara. Karena dengan begitu aku dapat menikah dengan Zelly," jawab Askar dalam hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pyramid: Temaram
RomanceGadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950. ❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada? ...
