16. The Dark Past : 1945-1947

248 30 1
                                        

"Rautmu tidak terlihat baik."

Nenek Tisna yang tengah menyeduh teh berkata pada cucunya. Ruzeline pun terkekeh mendengar ungkapan tersebut.

"Aku hanya memikirkan pekerjaan," dustanya.

"Ini masih libur, kau seharusnya tak perlu memikirkan hal itu," kata Nenek Tisna.

"Iya, Nek. Kalau begitu sepertinya aku mau beristirahat sebentar di kamarku."

"Baiklah, Nak."

Ruzeline pun berjalan ke kamarnya. Bukannya beristirahat dirinya malah memikirkan hal yang tak penting ia ingat.

Otaknya memutar pada tahun itu, tahun yang seharusnya menjadi kenangan terkuburnya.

***

Ruzeline POV : 1945

Aku berjalan di bawah derasnya hujan dengan tangisan yang tak berhenti turun dari mataku. Bagaimana ini?

Aku tak punya siapa-siapa.

Aku hanya punya Ayahku.

Tapi... Ia pun sudah pergi.

"Hiks... Hiks..."

Tubuhku berjongkok, menyuarakan tangis yang sudah mati-matian kutahan. Dasar rapuh.

"Aku harus bagaimana..."

Ke mana aku harus pergi? Aku bahkan tak tau siapa keluarga Ayah.

Selama ini, aku hidup bersama Ayah. Hanya dia.

Sraak!

Badanku mendadak kaku mendengar suara rerumputan di sekitarku. Ada orang yang datang. Jika itu Tentara, aku mungkin bisa dibunuh.

Aku harus bagaimana?

"Hei, mengapa anda ada di sini?"

Suara lembut itu, aku menengadah melihat siapa di hadapanku. Seorang lelaki berusia sekitar 20 tahunan dengan seragam Tentara.

"Tidak, jangan mendekat!" aku menjauh darinya, tubuhku jatuh ke rerumputan basah membuat aku seperti sedang merangkak.

"Aku tak akan membunuhmu," ucapnya, perlahan meraih ke arahku.

Bagaimana bisa dia berkata begitu jika tangannya dipenuhi darah segar?

"Ah, kau takut dengan ini ya?" ia menunjuk tangannya yang penuh darah. Dirinya lalu menjulurkan tangannya ke arah air hujan untuk membasuhnya dan mengelap tangan itu ke bajunya.

"Sekarang, apa tak masalah?" tanyanya ramah membuatku menurunkan rasa waspada.

"I-Iya," balasku. Ia lalu mendekat dan duduk di dekatku.

"Kau mengingatkanku pada seseorang," ucapnya.

"Seseorang?"

"Iya, Adikku. Ia sudah tiada."

"Ah... Aku turut berduka cita."

Aneh sekali. Di pertemuan pertama sudah berbicara santai.

"Kau campuran ya? Netherlands dan Indonesia?"

"Iya.." ucapku takut, "Apa kau akan membunuhku?"

Ia pun tertawa, "Tentu saja tidak. Walau kau campuran, kita kan masih satu Bangsa."

Tiba-tiba ia menatap lekat diriku, "Apa kau punya rumah?"

"Sudah hancur."

"Lalu, di mana kau akan pergi."

"Aku tak tau."

"Bagaimana jika ikut denganku? Orang tuaku pasti akan senang."

"Aku... Tak tau," jawabku bingung. Bagaiamana pun kami baru bertemu.

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang