14. Holiday

235 31 0
                                        

Hari ini, Ruzeline tak memiliki rencana apa-apa. Kedai Nenek pun libur karena Rahmi dan Tyas sebagai pekerja tengah mendapat liburan. Sehingga Kedai ditutup sementara.

"Nenek tak ingin ke mana-mana?" tanya Ruzeline pada Nenek Tisna.

Nenek yang sedang merajut menatap hangat pada cucu tirinya, "Tidak, Nak. Jika kau ingin berjalan-jalan, pergilah."

"Tapi Nenek terlalu sering di rumah. Apa Nenek tak ingin menghirup udara luar?"

"Oh, Nak. Nenek sudah menghirupnya selama puluhan tahun," balasnya. Terkekeh.

"Hehehe, maaf Nek."

"Bermainlah. Habiskan harimu dengan ceria. Ambillah uang di dompet Nenek jika ingin pergi," kata Nenek Tisna.

"Oh ayolah Nek, aku juga memiliki penghasilan sekarang," ucap Ruzeline. Ketika ia mau memberikan penghasilannya pada Nenek, wanita paruh baya itu selalu menolak.

Ia bilang hanya melihat Ruzeline bekerja saja sudah membahagiakan. Ia tak butuh uang, mengingat Nenek juga mengelola Kedai.

"Semua temanku sepertinya sibuk. Aku tak menyurati mereka, jadi aku tak tau," katanya, "Sepertinya aku akan pergi sendirian ke Bazar."

"Baiklah Nak. Nikmati waktumu."

"Terima kasih, Nek."

***

Ruzeline berjalan di sekitar Bazar dengan raut sumringah. Ia mengenakan topi bucket yang lumayan menutupi wajahnya.

Jika tak memakai topi, pandangan orang akan tertuju padanya, karena itu, ia lebih suka memakai topi saat berjalan sendirian.

"Saya mau ini 5 tusuk," katanya, melihat Sate yang tampak begitu nikmat.

"Silakan, Nona," kata sang penjual, menyerahkan Sate padanya.

Ruzeline pun membayarnya. Ia berjalan ke sekeliling sambil melahap Satenya yang begitu lezat.

Duagh!

Wadah Sate yang Ruzeline bawa, terhempas ke aspal. Gadis itu lalu memungutnya agar tak mengotori jalan.

Seorang wanita paruh baya tak sengaja menabraknya.

"Maafkan saya, Nona," kata wanita itu merasa bersalah.

"Tidak apa Nyonya," balas Ruzeline.

Aneh.

Wanita itu terus menatapnya. Mengapa?

"Ada apa ya Nyonya?"

"Maaf tapi, apa anda keturunan Netherlands?" tanyanya. Padahal Ruzeline sudah memakai topi, tapi masih saja kelihatan.

"I-Iya benar."

Ada keheningan yang terjadi setelah Ruzeline menajawab. Wanita itu tampak terkejut, entah kenapa.

"Permisi, Nyonya?" ucapan Ruzeline membuat wanita itu akhirnya tersadar.

"Ah, maafkan saya. Apa anda sendirian? Kebetulan saya juga. Apa Nona mau menemani saya berkeliling?"

Gadis itu mengernyit bingung. Tiba-tiba sekali. Tapi karena tak enak, ia tak bisa menolaknya.

"Boleh, Nyonya."

"Kalau begitu mari."

Ruzeline tak tau alasan Ibu itu mengajaknya berkeliling bersama. Tapi, hanya dengan melihat orang sekitar yang menyapanya, Ruzeline tau, ia bukan orang sembarangan.

"Berapa lama anda tinggal di sini?" tanyanya.

"Saya sudah tinggal di sini sejak lahir."

"Ah begitu ya," balasnya, "Omong-omong, siapa nama anda, Nona?"

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang