23. By Your Side

239 36 8
                                        

Ruzeline berjalan memasuki kamarnya di Kediaman Mahatama.

"Ini kamarku, masuklah," ajaknya. Tapi Askar hanya diam di luar.

"Hei kenapa kau diam? Katanya kau ingin seperti dulu? Dulu kan kita sering bermain di kamar satu sama lain, bahkan tidur bersama!" kata-kata Ruzeline yang cukup ambigu memicu rasa kaget dari pelayan yang berlalu lalang.

"Ma-Maksudnya tidur di kasur yang sama," ralat gadis itu, "Jadi, mau masuk apa tidak?"

"Aku akan masuk," Askar pun memasuki kamar Ruzeline. Mereka lalu duduk di sofa yang ada di sana.

"Jadi, ceritakanlah semua. Bagaimana keadaanmu setelah 'Rania' pergi."

"Kau penasaran?"

"Tentu saja bodoh! Aku saja selalu menahan untuk tak berteriak 'Hei Askar! Aku Rania!' di depan wajahmu," kata Ruzeline membuat Askar terkekeh.

"Baiklah. Aku akan menceritakannya."

🕦

3 tahun yang lalu

"Di mana putraku Askar?!"

Presiden Ganendra bertanya panik pada bawahannya ketika sang anak tidak ada dalam kamarnya.

"Tuan Muda..."

".....dia pergi ke kuburan Nona Rania."

Balasan dari sang bawahan membuat Ganendra khawatir. Mental putranya benar-benar terguncang setelah gadis itu pergi.

"Bawa dia kembali secepatnya. Cuacanya sangat buruk sekarang. Dan juga bawalah Bumantara bersaudara ke sana. Mereka pasti bisa membujuk Askar pulang."

"Baik, Tuan."

Sementara itu di lain sisi, lelaki dengan wajah sendunya duduk berlutut di sebelah pusara Rania. Walau hujan deras membasahi tubuhnya, ia tak peduli sama sekali.

"Rania, aku sangat merindukanmu sampai rasanya mau mati," ucapnya dengan baju yang sudah basah kuyup.

"Aku merindukanmu. Aku tak pernah merasakan hal ini pada orang lain sebelumnya."

"Aku selalu kesepian karena Ayahku yang merupakan seorang Presiden, Ibuku yang mengelola perusahaannya yang berjaya baik di tanah air maupun Luar Negeri, lalu adikku yang sibuk menerima pendidikan dasar."

"Kakek selalu mendidikku dengan keras sejak kecil. Ia tak pernah menyakitiku secara fisik, melainkan secara mental. Aku harus belajar dengan keras sesuai keinginannya, lalu jika aku membantah, ia akan mengurungku di ruangan yang gelap dan menyuruhku menghafal buku ilmuwan."

"Orang tuaku bahkan tak tau karena terlalu sibuk. Orang bilang aku ini hidup dengan begitu nyaman, tapi mereka tak tau kebenarannya. Bahkan aku iri pada Kak Nararya dan Arhad yang memiliki satu sama lain sehingga tak kesepian."

"Lalu pada saat aku terpuruk, aku bertemu denganmu yang datang padamu lalu berkata 'Kau kesepian? Kau terlihat sedih'. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupku mendapat pertanyaan seperti itu. Hanya kau yang menyadarinya."

"Saat itu, andai kau tau betapa bersyukurnya aku atas kemunculanmu. Aku ingin merangkulmu, memilikimu, hidup bersamamu selamanya."

"Aku mencintaimu, Rania. Aku terlambat mengatakannya."

Air mata Askar bersatu dengan air hujan dan jatuh ke atas tanah. Ia tak peduli sama sekali tentang keadaan sekitar. Hanya ada rasa rindunya pada Rania.

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang