48. It's You, Ruzeline

89 10 4
                                        

Karena senggang, agenda Ruzeline hari ini adalah menemui Nenek Tisna. Ruzeline sudah satu minggu lebih tak mengunjungi Nenek karena sibuk. Pasti Nenek akan mengoceh.

"Nenek, aku datang."

Ia masuk ke dalam kedai, dengan senyum sumringah. Di sana ada pekerja di kedai juga, Rahmi dan Tyas.

"Kau ini. Nenek kira kau sudah melupakan Nenek," Nenek Tisna tersenyum. Ia pun membawa Ruzeline ke pelukannya.

"Maaf, Nek. Jadwalku lumayan penuh, jadi sulit bagiku menyesuaikan waktu," kata Ruzeline, melepaskan pelukan mereka.

"Tidak apa. Nenek hanya bercanda kok. Kau itu Nyonya Bumantara, Nenek paham kau sibuk," ucap Nenek Tisna penuh pengertian.

"Kalau begitu apa Nenek tidak mau memindahkan kedai di dekat rumahku saja? Biar aku yang urus. Nenek tinggal saja di rumahku. Tiap paginya nanti bawahanku akan mengantar Nenek ke kedai," saran Ruzeline.

"Jangan. Bagi Arhad, situasi itu sama saja seperti tinggal dengan Ibu mertua," kekeh Nenek, "Kau tau kan, Nak, baik itu perempuan atau laki-laki, mereka akan tersiksa jika tinggal dengan mertua?"

"Oh ayolah, Suamiku tak akan begitu."

"Meski tidak pun, Nenek juga tidak tertarik atas tawaranmu."

Ruzeline memanyunkan bibirnya, "Kenapa begitu?"

"Kedai ini sudah menemani Nenek cukup lama. Sekarang ini menjadi sangat berarti untuk Nenek."

"Baiklah, Nek. Tapi jika Nenek berubah pikiran, beritahu aku ya."

"Iya, Nak."

***

"Aku juga mencintaimu, Airishena. Sangat."

ㅤㅤ

ㅤㅤ
Askar terbangun dari tidurnya dengan air mata yang mengalir deras. Ia buru-buru meminum air di meja nakas. Askar pun berjalan limpung menuju ke kamar mandi.

Ia membasuh wajahnya dengan kasar, menatap cermin di hadapannya.

"Raishan..." cicitnya pada pantulan dirinya di cermin, "Kau adalah Raishan, Askar."

Semuanya terasa sangat mengejutkan baginya. Semua memori di masa lampau, menyerbunya kembali di saat ia tidur. Askar mengingat semuanya. Saat ia masih menjadi Rai Bharat.

"Bagaimana itu mungkin.... ini sangat mustahil..." ia berjalan mondar-mandir di kamar mandi.

Sulit baginya untuk percaya dengan fakta ini.

"Zelly tau hal ini, karena itu dia menjauhiku kan? Karena aku adalah Rai Bharat, yang pernah menjadi Suaminya," kepala Askar terasa pening.

"Tuan Askar?"

Suara Zadka terdengar. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar mandi.

"Kau? Bagaimana kau bisa masuk?"

"Kunci duplikat. Saya terus mengetuk, tapi Tuan tak menjawab, jadi saya khawatir," kata Zadka, "Anda baik-baik saja, Tuan? Raut anda tidak terlihat baik."

Askar lantas menatap lekat-lekat ke arah Zadka. Ia lantas teringat dengan Zaka. Kesatria yang mengawal Airishena dulu.

Iya, Zadka dan Zaka sangat mirip. Askar jadi yakin mereka orang yang sama. Sungguh lucu baginya bahwa orang-orang yang ia kenal sekarang, juga ada hubungan dengannya di masa lalu.

"Apa kau pernah memimpikan sesuatu? Seperti kau adalah seorang Kesatria?" tanya Askar.

"Maaf, Tuan. Saya tidak paham maksud anda. Saya tak pernah bermimpi seperti itu," jawab Zadka sopan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 05, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pyramid: TemaramCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang