Gadis dengan surai panjangnya itu menangis di kamarnya menghadap ke arah jendela, setelah sang Ibu memarahi dirinya.
"Ekspresi apa yang Tuan Arhad tunjukkan waktu di pesta?! Ia tampak sama sekali tidak tertarik denganmu!"
Begitulah sekilas omelan sang Ibu tadi.
"Ini kan bukan kehendakku," ucap gadis itu, Kirana, dengan pelan.
Tiba-tiba, sebuah sosok mengetuk jendelanya, membuat Kirana tersentak dan buru-buru membuka jendela itu.
"Derrick! Apa yang kau lakukan? Jika Ayah atau Ibu melihat-"
"Sshh, makanya jangan berisik," Derrick memasuki kamar Kirana, menutup jendela.
Kirana pun berlari ke pintu kamarnya, buru-buru mengunci agar tak ada yang masuk ke sini. Setelah aman, ia berjalan ke arah Derrick dan memeluknya.
"Aku merindukanmu!" ucapnya, dengan derai air mata.
Derrick, Pilot itu tersenyum, "Iya, aku juga," ia menepuk-nepuk pundak Kirana.
"Nah, jadi, ceritakan bagaimana kau bisa ditunangkan dengan Kapten Arhad," kata Derrick, melepas pelukannya.
"Aku bersumpah, ini bukan kehendakku, Ayah dan Ibu yang mengatur ini untukku," ucap Kirana.
"Iya, aku paham. Kalau begitu, ceritakan semuanya. Aku percaya padamu."
***
Ruzeline yang tengah merapikan bahan-bahan makanan di dapur bawah, menyelesaikan kegiatannya setelah ada ketukan dari pintu Kedai.
Ia berjalan ke sana, lalu membuka pintu tersebut.
"Ka... Kau..."
Pupilnya bergetar melihat manusia di hadapannya. Dengan seringainya, orang itu menatap Ruzeline lekat.
"Lama tak bertemu, Rania."
***
"Harusnya Ibu menemui Kak Nararya."
Arhad, pria itu tengah makan malam bersama dengan sang Ibu yang tampak muram. Ketika Nararya ingin bertemu, sang Ibu menolaknya karena masih marah.
"Tak ada yang perlu Ibu katakan lagi padanya. Hubunganku dengannya sudah putus," ucap Tiana.
"Itu cukup keterlaluan mengingat darah Ibu mengalir dalam dirinya."
"Dia sudah mempermalukan Ibu di hadapan Kakek dan Ayahmu, Arhad."
Arhad meletakkan alat makannya ke meja, menatap ke arah Ibunya, "Apa menurut Ibu, mencintai orang sampai mengorbankan sesuatu itu memalukan Bu?"
"Tentu saja. Bagaimana itu tidak memalukan? Aku mendidiknya selama ini dengan harapan ia akan menjadi anak yang membanggakan."
"Lucu sekali. Aku jadi berpikir bagaimana jika Kak Nararya dan Nyonya Amika berakhir seperti Romeo dan Juliet," sarkas Arhad.
"Apa maksudmu?" sentak Tiana.
"Romeo dan Juliet, bukankah mereka bunuh diri karena tak mendapat restu? Akibat keluarga Capulet dan Montague yang bermusuhan," Arhad terkekeh sinis.
Tiana mencengkram ujung bajunya, "Nararya tak mungkin melakukan hal yang melukai dirinya."
"Oh, jadi Ibu takut kehilangan Nararya?"
"Aku..." Tiana menggantung ucapannya, "Intinya kau tak boleh melakukan hal yang mempermalukan keluarga."
"Wah, bagaimana ini," ucap Arhad, "Sepertinya jika Ibu tau apa yang aku lakukan, Ibu akan pingsan."
"A-Apa yang kau lakukan Arhad?" kaget Tiana mendengar ucapan sang anak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pyramid: Temaram
Roman d'amourGadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950. ❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada? ...
