34. Bloody Banquet

217 27 2
                                        

"Kak Ruzeline! Kak Harsa!"

Bocah-bocah panti berjalan mengerumuni dua orang yang belum mereka temui setelah beberapa lama.

"Apa kabar anak-anak?" Ruzeline merendahkan tubuhnya mensejajarkan tinggi dengan mereka. Anak-anak pun memeluknya bergantian.

"Kakak, apa Kakak dan Kak Harsa menikah makanya tidak ke sini?" tanya salah satu anak.

"Kami baru bertunangan. Belum menikah," balas Ruzeline lembut.

"Ada banyak urusan yang harus kami selesaikan, maaf tak berkunjung," kata Arhad, mengelus rambut anak-anak.

"Sebagai permintaan maaf, kami membawa hadiah untuk kalian," kalimat Ruzeline membuat anak-anak antusias.

Ruzeline lantas menepuk tangannya dua kali, lalu, seorang lelaki jangkung berjalan masuk.

"Kak Ren!" teriak para bocah senang.

Mereka lalu memeluk Ren dengan erat.

Setelah melepas rindu, ketiga orang itu pun mulai membantu anak-anak untuk belajar. Sekarang, giliran Ren yang mengajar di depan setelah Ruzeline dan Arhad selesai.

"Jadi, jika Guru adalah Teacher, Hakim adalah Judge, dan Koki adalah Chef, Kepala Sekolah adalah...."

"Head School," lanjut Ren atas kalimatnya.

Ruzeline dan Arhad pun langsung saling tatap. Mereka lantas membisikkan sesuatu pada Ren.

"Headmaster, Ren," tegur Ruzeline.

"Oh iyakah? Mengapa bisa seperti itu Kak?"

"Aku pun tak tau. Aku bukan Raja George VI," kekeh Ruzeline.

Pelajaran pun dilanjut, dengan Ren yang mengajar dengan lumayan, mengingat ini pertama kali baginya.

***

"Bagaimana dengan bunganya?"

High heels merah menapak di atas lantai dengan material paling mewah itu. Tiana, ia tengah mengecek perjamuan yang akan diadakan olehnya.

"Kami sudah menyiapkan Heliotrope dan Anggrek Bulan sesuai yang Nyonya minta," ucap pelayan.

"Baiklah, terima kasih. Nanti putraku dan menantuku akan langsung datang setelah berkunjung ke panti. Persiapan harus lebih cepat," kata Tiana lalu melenggang.

Sebenarnya, Tiana tak tau bunga yang Ruzeline sukai.

Tapi jika bertanya pada Arhad, pria itu pasti akan menjawab Heliotrope dan Anggrek Bulan. Karena dua bunga itu selalu ada di kamar Ruzeline.

Heliotrope.

Karena Askar, Ruzeline jadi menyukai bunga itu dan memajangnya di kamar.

Lalu anggrek bulan,

Ruzeline menyukai bunga itu karena hadiah Arhad pertama kali adalah bunga tersebut.

"Kenapa ini ada di sini?"

Tiana menghentikan langkahnya melihat sebuah bingkai foto yang lumayan besar. Potret dirinya dengan Mahadra yang masih muda saat itu.

Melihatnya membuat Tiana kesal.

"Pelayan, tolong singkirkan ini ke gudang," perintah Tiana yang langsung dipatuhi.

Sekarang, Tiana bahkan tak tau apa ia masih mencintai Mahadra atau tidak.

***

"Mahadra, ada apa?"

Pria paruh baya yang tengah berada di ruang kerjanya itu tiba-tiba saja bengong selama beberapa saat. Ia Mahadra.

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang