"Dia Kirana. Ia tunanganmu mulai sekarang."
Arhad menatap tajam Ayahnya. Dirinya dijebak. Ia disuruh datang untuk makan malam Keluarga, tetapi, malah ada orang lain yang datang.
"Malam, Tuan. Saya Kirana Hasya Bewari. Kedepannya, mohon bantuan anda," gadis jelita itu memperkenalkan diri.
"Aku perlu bicara dengan Ayah," Arhad menyeret Ayahnya ke tempat sepi restoran. Ia menatap kesal Mahadra.
"Apa-apaan Ayah?! Kenapa dia bertunangan denganku tiba-tiba?"
"Maksudmu tiba-tiba? Kau sudah menandatangin surat pertunangan."
"Aku bahkan tak pernah melakukan itu, jangan bercanda," Arhad benar-benar emosi, "Tunggu, jangan bilang–"
"Benar. Dokumen yang aku kirimkan, itu dipalsukan. Aslinya isinya mengenai pertunangan dengan bocah Bewari itu," Mahadra tersenyum penuh kemenangan.
"Kurang ajar. Ini melanggar hukum. Aku bisa melaporkannya."
"Hukum, kau bilang," pria paruh baya itu tertawa mengejek, "Bukan aku yang tunduk pada hukum, tapi hukum yang tunduk padaku."
"Aku tak menerima ini."
"Oh ya? Baiklah biar kuingat, siapa namanya ya? Ruzeline van der Meyer? Si campuran Netherlands. Seleramu luar biasa sekali."
Deg!
"Jika Ayah menyentuhnya seujung kuku saja, aku akan membuat Ayah membalasnya," ancam Arhad.
"Kau pikir kuasamu lebih besar dariku, Arhad? Bumantara ada dalam genggamanku, jangan lupa."
"Salah. Bumantara ada di genggaman Kakek. Dan aku, cucu kesayangannya," jawaban Arhad membuat Mahadra menggertakan gigi.
"Bahkan jika kau kesayangan Kakekmu, tak ada yang bisa kau lakukan. Ia pun tak akan senang cucu kesayangannya bersama dengan keturunan penjajah."
"Tidak. Aku akan membuat Kakek merestui hubungan ini."
"Coba saja. Tapi sampai saat itu, jika kau tak menerima anak Bewari, aku akan menyakiti kekasihmu itu."
Mahadra meninggalkan Arhad yang mematung dengan wajah penuh amarah. Ia hanya ingin Ruzeline. Hanya dia.
***
Hari ini, Ruzeline kembali bekerja di kantor Cakra. Sejak pagi sampai siang ini, ia masih tak bertemu dengan Bosnya. Cakra terus berada di ruangannya sejak tadi, dan Ruzeline tak berani menghadapnya.
"Ini kacau!" Ruzeline bangkit dari kursinya, berjalan ke arah ruangan Cakra. Sesampainya di sana, ia membuka ruangan itu dengan keras.
"....Oh."
Suasana begitu canggung. Ternyata, ada Mirian Ibu Cakra di sana. Cakra pun menatap Ruzeline datar.
"Ruzeline, sayang? Duduklah di sini," Mirian menepuk sofa di sebelahnya dengan wajah sumringah.
"Terima kasih Ibu, tapi saya hanya ingin mengecek Tuan Cakra saja. Saya akan kembali sekarang," ketika Ruzeline mau menutup pintu, suara Mirian menghentikannya.
"Duduklah dulu, Nak. Mari temani Ibu berbincang," ucap wanita itu. Mau tak mau, Ruzeline menurutinya.
"Nah Ruzeline, bagaimana kinerja Cakra selama di kantor?" tanya Mirian.
"Tuan bekerja dengan sangat baik. Malah ia seperti workaholic," Ruzeline menjadi teringat pada Arhad. Tunangannya itu begitu sering bekerja. Menjadi seorang Kapten Pilot dan CEO.
"Baguslah. Tapi, mengapa kau masih berbicara formal dengannya? Santai saja," Mirian tersenyum, mengelus surai Ruzeline.
"Aku dan Nona Ruzeline berbicara santai ketika di luar kantor. Kami biasanya tak melakukannya di sini karena takut adanya kesalah pahaman," kali ini Cakra yang menjawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pyramid: Temaram
RomanceGadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950. ❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada? ...
