Gadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950.
❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta
Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada?
...
Ruzeline menatap keluar jendela gedung. Ia merindukan Arhad. Sudah satu minggu lebih dirinya tak menemui pria berdarah biru tersebut.
"Apa yang sedang anda pikirkan?"
Cakra berdiri menyenderkan tubuhnya di ambang pintu ruangan Ruzeline.
"Bukan apa-apa, Presdir," gadis itu tersenyum. Ia lalu berdiri membawa sebuah berkas, menyerahkannya ke tangan Cakra.
"Ini sudah jam makan siang. Anda tak makan?"
"Saya kebetulan sudah kenyang."
Kruuk Kruuk
"Ah, memalukan!" batin Ruzeline ketika perutnya berbunyi.
"Kebetulan, saya ingin memasak makanan buatan anda lagi. Apa anda tidak keberatan membuatkannya untuk saya?"
"Eh??!"
Pada akhirnya, Ruzeline mengiyakan tawaran Cakra. Mereka berdua pergi ke Kedai Nenek Tisna. Di sana, ada Nenek, Tyas, dan Rahmi dengan beberapa pelanggan lain.
"Sepertinya lebih baik Tuan makan di lantai dua. Di sini cukup ramai," tawar Ruzeline, yang disetujui oleh Cakra.
Ketika berada di lantai dua, yaitu rumah Ruzeline, ia mempersilakan Cakra duduk, dan dirinya berjalan ke dapur yang ada di sana tuk mulai memasak.
"Rumah anda sangat nyaman," puji Cakra seraya melihat-lihat sekitar.
"Terima kasih, Tuan," senyumnya.
Cakra yang tengah melihat-lihat, matanya sontak terpaku pada sebuah bingkai foto kecil yang terpajang begitu indah di atas meja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Orang itu mirip Tuan Arhad Bumantara," kata Cakra, mencoba mendekat untuk memastikan penglihatannya, "Apa aku salah lihat?"
Sebelum Cakra melihat lebih dekat foto itu, Ruzeline buru-buru mengambil bingkainya.
"Ha-Hahaha tak mungkin. Orang di foto itu adalah... uhm... Te..Teman saya. Teman dekat," gagap gadis itu.
Saat ini hubungannya dengan Arhad masih harus dirahasiakan mengingat Ayah Arhad pasti sedang mencari kelemahan Arhad sekarang.
"Tapi saya yakin itu seperti Tuan Arhad," Cakra masih bersikeras.
"Yah, wajah orang pasti banyak yang mirip satu sama lain kan. Itu wajar," elaknya, "Lagi pula untuk apa ada foto Tuan Arhad Bumantara di rumah ini?"
"Yah, anda benar juga," Cakra mengangguk-angguk.
"Lebih baik mulai makan sekarang. Makanan sudah siap."