36. Suddenly a Mom

254 20 14
                                        

"Ini hotel yang didirikan keluarga Bibiku. Hotel ini sukses menjadi peringkat teratas bersama dengan Hotel Bumantara yang juga ada di sini."

Mendengar penjelasan Arhad, Ruzeline mengangguk paham seraya menatap betapa indahnya interior dari hotel ini.

"Mengapa kita tak menginap di Bumantara saja?" heran Ruzeline.

"Bumantara cabang Zürich dikelola oleh anak dari istri kedua Ayahku, Netari. Aku tak mau menginjakkan kaki di sana," Arhad terkekeh pelan seraya menatap ke sembarang arah.

"Begitu rupanya."

Ruzeline lantas menggandeng lengan Arhad dan mengelusnya. Arhad yang melihatnya lantas tersenyum, lalu berjalan bersama tunangannya menuju ke tempat mereka akan bermukim selama beberapa hari.

"Bibi Aninda secara khusus meminta para pegawai menyiapkan kamar ini dengan baik untuk kita. Jika ada perlu, kau hanya cukup menelepon kamarku," ucap Arhad seraya menyerahkan kunci kamar.

Sebab pada tahun itu, sistem cardlock hotel masih belum dijumpai.

"Baiklah, Arhad."

"Besok jam 10 pagi, kita akan pergi. Karena itu beristirahatlah dengan baik malam ini."

"Iya. Selamat malam, Arhad."

***

"KAK ZELLY PERGI KE MANA?!"

Ren yang baru saja sampai bersama Kakak tirinya, Karuna, di tempat Nenek Tisna itu sontak terkejut.

"Pelankan suaramu, bocah!" tegur Karuna, kakak tiri Ren, seraya tersenyum pada Nenek Tisna yang tampak kaget.

"Dia pergi ke luar negeri," ucap Artha, adik Askar.

Sekarang, Ren, Cakra, Nararya, Artha, Rasi, Amika, dan Karuna tengah berkumpul di kedai Nenek Tisna hanya untuk bercengkrama ria.

"Kenapa aku tak diajak?!" kesal Ren.

"Karena mereka tau kau akan jadi beban," cibir Rasi.

"Kurang ajar," desis Ren sebal.

"Sudah-sudah. Bukankah kita ingin membahas sesuatu sekarang?" Karuna, Kakak tiri Ren itu berucap.

"Benar. Ini tentang rencana pernikahan Arhad," Nararya akhirnya membuka mulut.

Brash!

Cakra yang mendengarnya, tak sengaja menyemburkan teh yang baru saja ia teguk.

"Pe-Pernikahan?!" kagetnya.

"Tentu saja, pernikahan. Mereka kan sudah bertunangan," kekeh Amika.

"Tapi mereka akan menikah?" Cakra memastikan.

"Kau pikir mengapa mereka ke luar negeri? Hanya untuk merayakan tahun baru?" Nararya terkikik sejenak, sebelum akhirnya memasang raut serius, "Aku mengajak kalian ke sini untuk meminta saran, bagaimana kira-kira pesta yang harus diadakan nanti."

"Kak Nararya serius menanyakan ini?" Ren mencebikkan bibirnya.

"Kau jangan kebanyakan berharap bisa memiliki Kak Ruzeline. Sainganmu ada Kak Arhad, Kakakku, dan pria di hadapanmu itu," ketus Artha, seraya menatap sekilas ke arah Cakra yang menggaruk tengkuknya canggung.

"Tak apa Kak, yang penting kau sudah berusaha," Rasi menepuk-nepuk pundak Kakaknya.

"Ya sudah mari bahas saja tentang ini. Aku menyarankan pernikahan meriah," usul Cakra mengalihkan pembicaraan.

"Aku lebih suka pernikahan diadakan secara tertutup," celetuk Artha.

"Benar. Yang penting orang terdekat datang," timpal Rasi.

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang