Tepat beberapa saat sebelum tahun baru, Ruzeline akhirnya terbangun. Bisa dibilang, ia koma karena pendarahan. Mungkin, dirinya akan lebih parah jika tak mengambil obat penambah darah dari Zadka.
"Ar...had?"
Matanya menatap nanar pria yang tertidur di kursi yang ada di sebelah kasurnya. Ruzeline tengah berada di rumah sakit.
"Ruzeline?" mengucek matanya, Arhad memastikan apa benar gadis itu sudah bangun.
"Arhad..." tangisan muncul dari wajah gadis itu. Begitu pula dengan Arhad.
"Syukurlah. Aku takut sekali," pria itu mengecupi tangan sang gadis dengan perasaan yang lega.
"Apa yang terjadi, Arhad? Aku teringat diriku pingsan," katanya, meminta penjelasan, "Apa kau menyelamatkanku?"
Muncul kekecewaan di wajah Arhad.
"Aku mencoba menyelamatkanmu, tetapi aku tak berhasil," ucap Arhad.
"Lalu bagaimana bisa.."
"Jika Askar tak datang menjemputmu jauh-jauh dari New York, kau pasti sudah tertembak saat itu," Arhad lalu menceritakan semua yang terjadi setelahnya.
Termasuk fakta bahwa dia menyembunyikan tentang Ruzeline hilang dari Askar.
Apa Ruzeline marah? Tidak. Ruzeline mencoba memahami. Ia mencintai Arhad, karena itu ia berusaha memahaminya selalu.
"Terima kasih, Arhad, kau pun juga telah menyelamatkanku," kata Ruzeline, mengusap pipi sang pria.
"Itu adalah tugasku sebagai tunanganmu."
Tiba-tiba, Ruzeline menjauhkan tangannya dari Arhad, "Aku lupa! Bagaimana dengan Zadka?!" ia duduk di atas kasurnya.
"Zadka? Orang yang melindungimu? Dia baik-baik saja setelah dioperasi dan menerima donor darah. Bahkan ia sadar lebih dahulu darimu, dan sedang istirahat," ucap Arhad.
"Untungnya," Ruzeline menghela napas lega, "Terima kasih, Arhad."
"Askar yang menyelamatkannya. Aku bisa saja membunuhnya jika Askar tak mengucapkan sesuatu," kata Arhad pahit.
Setelah itu, satu persatu orang berdatangan menjenguk Ruzeline. Tapi, ada satu orang yang kurang.
Askar.
Selama Ruzeline dirawat, ia selalu hadir untuk menjenguk. Tapi karena Arhad selalu berada di sebelah Ruzeline, ia mencoba menghargai, dan hanya bisa menatap gadis itu dari luar kamar.
Berharap yang terbaik untuk kesembuhannya.
***
Beberapa hari setelahnya, di Kediaman Amurwabhumi
"Lain kali jangan terlalu memaksakan diri."
"Ya, Ibu."
Askar baru saja sembuh dari sakit akibat terlalu sering bekerja. Ia akhir-akhir ini memaksakan diri untuk menyibukkan dirinya sehingga tak begitu khawatir tentang Ruzeline.
"Apa ada kabar selama aku sakit?" tanya Askar pada Aninda, Ibunya.
Senyuman pun timbul di wajah wanita itu, "Ruzeline sudah sadar. Sekarang ia sudah berada di Kediaman Mahatama."
Hanya dengan satu kata itu, Askar pergi keluar dari mansion Amurwabhumi, pergi menyusul Ruzeline.
***
"Tuan! Tuan Askar!"
Askar mengemudikan mobil sendirian di saat ia belum sembuh. Hal ini membuat bawahan mengekori dengan mobil lain di belakangnya.
Bahkan,
KAMU SEDANG MEMBACA
Pyramid: Temaram
RomanceGadis Belanda terlibat dengan orang-orang terpenting Indonesia pada 1950. ❝Aku keturunan penjajah. Kita tak akan pernah bersatu.❞ ‐ 1950, Jakarta Setelah Indonesia merdeka, pernakah kalian berpikir bagaimana nasib keturunan para penjajah yang ada? ...
