40. SEASON 1 END: The Binding Past

419 29 15
                                        

Puluhan tahun lalu

Gadis dengan pakaian yang sudah lusuh setelah selesai membantu peperangan itu, duduk di bawah pohon untuk beristirahat.

"Nona," seorang lelaki mendekat ke arahnya. Namanya Maharaja Sangga Bumantara, seorang pewaris dari Bumantara, yang merupakan Bangsawan ternama.

Sambil memiringkan kepalanya, gadis itu menatap bingung ke arah Sangga, "Ada apa?"

"Anda menjatuhkan ini," Sangga memberikan belati tajam dengan ukiran yang sangat mewah di gagangnya.

Seperti belati yang biasa Bangsawan miliki.

"Itu bukan punya saya," kata gadis tersebut, Tisna.

"Benarkah?" tanya Sangga, "Kalau begitu ambil saja," ia berdehem.

"Eh? Bagaimana kalau ada yang punya?" bingung Tisna.

"Tidak, tidak akan ada yang punya, ambil saja. Gunakan dengan baik," Sangga membungkuk sejenak untuk memberikan belati yang sudah dilambari kain itu kepada Tisna.

"Kalau begitu terima kasih. Aku memang membutuhkan ini untuk berperang," senang Tisna.

Sangga pun hanya mengangguk sejenak, lalu menjauh dari sana.

Sebenarnya, Sangga hanya memberi alibi bahwa ia mengira belati itu Tisna jatuhkan agar dirinya bisa memberi belati itu pada Tisna. Karena memang ia sengaja membeli belati itu untuk ia berikan pada gadis pemberani tersebut.

Berhari-hari pun berlalu, dan dalam hari-hari itu pula, Sangga terus mengulang hal yang sama, berpura-pura bertanya pada Tisna apa ia menjatuhkan sesuatu untuk memberinya barang.

Lalu pada akhirnya, Tisna pun sadar.

"Anda sengaja kan?"

"Sengaja apa?" tanya Sangga pura-pura tak tau apa-apa.

"Barang-barang itu dari anda kan?" tanya Tisna.

"Tidak tau, saya memungutnya," dusta Sangga, seraya membasuh wajahnya dengan air.

Saat ini keduanya tengah berada di tepi sungai.

"Anda kurang pandai berbohong," kekeh gadis itu, lalu mencipratkan air ke arah Sangga.

"Aduh," ringis Sangga. Lelaki itu sontak terkekeh dan mencipratkan air balik ke arah Tisna.

Perang air.

"Sudah Tuan, hentikan. Saya tak boleh basah karena harus berjuang lagi setelah ini," kata Tisna dengan senyumannya.

"Baiklah. Kalau begitu, aku tunggu besok di tempat ini," balas Sangga, Tisna pun mengangguk dan meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya, ketika Tisna kembali ke sana, ia disodorkan buket bunga oleh Sangga. Mata Tisna mendadak berbinar.

"Wah... ini yang biasa dimiliki Bangsawan ya?" kata gadis itu.

"Iya, untukmu."

"Eh? Mengapa?"

"Untuk apa aku memberikan itu padamu jika bukan karena aku menyukaimu?" Sangga menampakkan senyum usilnya.

Pengakuan tiba-tiba dari sang lelaki membuat Tisna terkejut.

"Tuan? Saya tak berhak menerima rasa suka dari seorang Bangsawan seperti anda," balasnya rendah diri.

"Jangan berpikiran seperti itu. Perasaanku tak ada hubungannya dengan gelarku, Tisna," kata Sangga halus, seraya menyentuh kedua bahu gadis itu, "Karena itu, maukah kau menjalin kasih denganku?" tawar Sangga.

Dan itulah awal mula bagaimana keduanya menjadi sepasang kekasih selama waktu yang cukup lama. Yaitu dua tahun.

Sampai pada akhirnya,

Pyramid: TemaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang