Mulut bisa berdusta
Wajah bisa diubah
Fisik bisa sama
Tapi mata adalah kuncinya.
Jangan buang-buang waktu, kita tidak memiliki banyak waktu hanya untuk menunggu otak bodohmu itu bekerja.
Faren membaca 4 deret tulisan tangan yang terlihat sangat rapih itu, ia mengabaikan beberapa kalimat yang juga mencelanya. di malam yang sudah hampir menjelang pagi, bukannya tidur Faren justru duduk di balkon kamarnya dengan meminum coklat panas.
Faren tak bisa tidur, ia memikirkan semuanya, sebenarnya sudah sejak beberapa hari lalu ia memikirkan ingin ke markas ANOD itu, tapi terus tertunda dengan hal lain. Kini sudah jam 3 dini hari, sebentar lagi pasti akan subuh.
Otak Faren berkelana memikirkan arti dari kalimat di kertas tersebut. Ia bergumam pelan dengan melihat langit gelap yang sudah tak berbintang itu. "Mulut bisa berdusta, wajah bisa diubah, fisik bisa sama, tapi mata adalah kuncinya."
"Perasaan bisa dikelabui, rupa bisa membohongi, tapi mata adalah kunci."
Seketika Faren tersentak saat mengingat apa yang Bundanya katakan, "Kenapa selalu mata?" Gumam Faren bertanya pada dirinya sendiri.
Tak mau lama berfikir ia pun berdiri, Faren kembali masuk ke dalam kamar dan mengais kunci motornya, ia tak bisa banyak membuang waktu, ia harus segera mengetahui apa yang diinginkan orang itu darinya karena terus saja mengincarnya.
••***••
Sebuah motor berhenti di depan bangunan besar yang terlihat sangat tua, dari luar terlihat sangat gelap dan sunyi, seperti rumah angker yang sudah berpuluh tahun tidak berpenghuni.
Faren melepas helm full face hitam yang melindungi kepalanya, setelahnya Faren menyugar rambutnya dan menatap bangunan besar yang ada di hadapannya, "Ini markas utama ANOD?" gumam Faren.
Perlahan namun pasti, Faren mulai turun dari motor besarnya dan memasuki rumah itu, tak ada rasa takut sedikitpun meskipun rumahnya terkesan horror, Faren bukan penakut.
Faren bersiul dua kali sebagai penanda jika ia datang, siapa tau ada yang mendengarnya. Faren yakin jika sudah pasti ada orang yang melihatnya datang. Tempat ini memang terlihat sepi, tapi kepekaan Faren terhadap seseorang tak bisa dihiraukan, Faren tau banyak yang memantaunya.
Saat Faren sudah berdiri di depan pintu besar yang tertutup itu, Faren menoleh ke arah kanan kiri lalu kembali menatap ke depan pintu besar itu, "Ga dibukain pintu gue balik." kata Faren berbicara.
Seperti sebuah perintah, kata-kata Faren terkabulkan, pintu itu terbuka untuknya, Faren tidak peduli siapa yang membukanya, yang penting ia tak perlu menyentuh gagang pintu kotor itu.
Langkah kaki Faren membawanya masuk, gelap. Benar-benar gelap.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki yang terdengar menggema di ruangan itu membuat Faren berhenti berjalan. Kedua tangan Faren lantas masuk ke dalam saku jaket yang ia kenakan.
"Dean Faren Alfahri." suara berat penuh penekanan itu tak membuat Faren gentar, ia berdiri dengan santai meskipun ia tak melihat siapa orang yang menyebut namanya, tapi ia tau di mana posisi orang itu meskipun Faren tidak melihat cahaya sedikitpun.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Teen Fictionkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
