Begitu mata Faren terbuka, orang pertama yang dilihatnya adalah Bella, Bella yang tertidur di pelukannya. Tidur di sofa membuat badan Faren terasa pegal, apalagi tangannya juga kram karena dibuat bantalan untuk Bella. Setelah menonton film yang berujung tragis dan membuat Bella menangis tadi, keduanya lalu tidur di atas sofa dengan saling berpelukan.
Faren mengamati wajah cantik Bella, ia belai kepalanya, lalu pipinya. senyuman di bibir Faren muncul, lelaki itu mengelus sebelah pipi Bella, "Cantik," pujinya.
Faren mendekatkan wajahnya, ia gesekkan hidungnya dengan hidung Bella, "Bangun, udah mau malem." kata Faren.
Elusan di pipinya membuat Bella mengeliat, ia semakin memeluk Faren dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Faren. Senyum di wajah Faren tak bisa luntur jika sedang bersama Bella, apalagi dengan keadaan seperti ini. "Katanya mau belanja bulanan," ujar Faren dengan mengelus kepala dan punggung gadisnya.
Bella tersenyum yang tak dapat dilihat Faren, ia suka perlakuan manis Faren. Sangat menyukainya. "Kamu wangi Kak, aku suka deket kamu," ujar Bella bergumam.
"Lo juga wangi," balas Faren.
Bella melonggarkan pelukannya untuk melihat Faren, ia lalu mencium bibir tebal Faren yang disambut baik olehnya. Tak lama setelahnya Bella melerainya, ia tersenyum pada Faren. "Coba ngomong pake aku-kamu," suruh Bella.
"Aku suka kamu," ujar Faren membuat Bella senang. "Jadi nggak belanja bulanannya?" tanya Faren.
"Jadi."
"Yauda sana mandi, siap-siap." suruh Faren. Bella beranjak untuk menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Faren mengambil ponselnya yang ada di atas meja dengan meringis saat merasa tangannya yang habis ditiduri Bella sangat kaku. Lelaki itu menelpon Haris, asisten pribadinya. "Tolong kirimin satu mobil ke apartemen gue, yang paling bagus." ujar Faren saat sambungan telpon terhubung, setelahnya Faren menutup panggilan telpon itu sepihak.
Faren pun menuju kamar mandi dekat dapur, karena kalau menunggu Bella selesai mandi pasti akan lama.
Dua puluh menit berlalu dan Faren sudah siap sejak tadi dengan celana panjang hitam yang dipadukan dengan kaos putihnya. Namun Bella masih saja belum keluar dari kamar.
Faren menyakui ponselnya setelah selesai main game, ia lalu berjalan ke dalam kamar guna menghampiri Bella. Begitu masuk, ia melihat Bella tengah berdiri di depan cermin, menggunakan baju warna coklat dengan celana kulot berwarna hitam, rambutnya dikuncir kuda tak terlalu tinggi dengan menyisakan beberapa anak rambut di depan. Faren bersidekap dada melihatnya.
Sedangkan Bella tengah melihat wajahnya yang pucat itu dengan bingung, ia tak ada skincare atau make up untuk menghiasi wajahnya agar terlihat lebih cantik. Hal itu membuat Bella jadi insecure untuk pergi dengan Faren. Padahal dulu ia tak pernah memusingkan tampilan wajahnya, Faren juga sudah sering melihat wajah Bella, bahkan dalam kondisi terjelek sekalipun. Tapi perempuan tetaplah perempuan, yang ingin selalu tampil cantik di depan pasangannya, atau bahkan tak hanya untuk orang lain, tapi untuk membuat dirinya sendiri puas.
"Jadi mau belanja apa ngaca aja di situ?" tanya Faren membuat Bella berbalik badan dan menatap lelaki itu yang tengah bersidekap dada dengan menaikan sebelah alisnya.
Bella berjalan menghampiri Faren, "Muka aku pucet banget, kayanya nanti aku mau beli make up juga deh. Aku ga punya make up sama sekali, bahkan lipstik atau lip balm aja engga ada." kata Bella dengan wajah lesunya.
Faren menatap Bella dari atas sampai bawah, Bella sudah cantik, bahkan sangat cantik. Kenapa harus ribet hanya karena tidak memakai make up? Pikir Faren. Lelaki itu maju selangkah mendekat pada Bella, tangannya bergerak ke belakang kepala Bella lalu melepas kuncir rambut Bella dan mulai merapikannya menggunakan tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Teen Fictionkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
