"Sayang, kamu udah siap belum?"
Suara Faren yang masuk ke indra pendengarannya membuat Bella cepat-cepat memutus sambungan telponnya dengan Nina.
Tapi gestur tubuh dan gerakan spontan yang Bella lakukan tertangkap mata Faren membuat Faren langsung menatapnya penuh, ada apa dengan kekasihnya itu? Kenapa begitu panik ketika dirinya datang hingga langsung memutus sambungan telpon tanpa pamit pada lawan bicaranya.
"Telpon siapa?" tanya Faren dengan melangkah mendekati Bella yang tengah berdiri di balkon.
Raut Bella sudah jelas tampak bingung, panik, dan terkejut, namun perempuan itu berusaha menetralkan ekspresi wajahnya, ia berdeham kecil kemudian melempar senyum pada Faren, "Bukan siapa-siapa, aku udah siap, berangkat sekarang?"
Bodoh jika Faren percaya begitu saja, lelaki itu menatap Bella dengan sorot mengintimidasi khasnya, "Telpon, siapa?" tanyanya lagi, intonasi bicaranya rendah, tapi ia menekan setiap katanya.
"Bukan siapa-siapa, kita jadi pergi kan?"
Rencananya hari ini Faren akan mengajak Bella bersenang-senang di kota New York ini, entah itu berjalan-jalan, berbelanja, atau apapun yang akan membuat Bella bahagia intinya. Faren ingin memberikan Bella pengalaman yang menyenangkan mengingat jika ini pertama kalinya Bella keluar negri, itu alasan kenapa pagi-pagi begini mereka sudah bangun dengan pakaian yang rapih.
Tapi agaknya akan ada sedikit hal yang perlu Faren urus sebelum melakukan rencana yang sudah ia susun sebelumnya. Ia merasa Bella menutupi sesuatu darinya.
Sikap dan tatapan Bella sedikit berbeda dari biasanya, Faren tentu menyadari itu. Ia sangat mencintai Bella, tak ada sedikitpun hal yang Faren lewatkan, ia begitu memperhatikan Bella secara detail, bahkan jika Bella berkedip lebih cepat dari biasanya pun Faren akan langsung menyadarinya.
Beberapa hari ini, Faren merasa jika Bella sedang memikirkan sesuatu, perempuan itu terlihat tidak seperti biasanya, entah apa yang dialaminya. Meski Faren tak berbicara, ia tetap tau ada yang berbeda pada Bella. Namun Faren tak mau terlalu menekan Bella, Faren berpikir ia yang terlalu berlebihan, atau kalaupun memang benar ada sesuatu pada Bella, ia ingin Bella sendiri yang mengatakan padanya.
Tapi kali ini terlalu jelas, Bella menutupi sesuatu darinya. Faren melihat bagaimana Bella yang langsung buru-buru memutus sambungan telpon begitu mendengar suaranya, seolah memyembunyikannya dari Faren.
"Kenapa ngeliatin aku kaya gitu?" tanya Bella dengan memegang sebelah lengan Faren.
"Habis telpon siapa?" untuk ketiga kalinya Faren bertanya hal yang sama.
"Bukan siapa-siapa Kak."
"Kamu sembunyiin apa dari aku?"
Bella langsung panas dingin mendengar pertanyaan itu, apalagi ditatap seserius itu oleh Faren, lelaki itu seperti sedang bersiap untuk marah.
"Sembunyiin apa? Engga sembunyiin apa apa, ko tiba-tiba nanya gitu sih?"
"Kenapa panik pas aku dateng? Langsung ditutup telponnya, bicara sama siapa?"
Bella kebingungan menjawab, ia tak terbiasa berbohong, apalagi pada Faren, Faren bukan tipe orang yang mudah dibohongi, jelas saja Bella bingung harus mencari alasan bagaimana.
"Bella Adeline."
Baiklah, kali ini Bella harus menggunakan otaknya semaksimal mungkin. Faren sudah seperti ini, jika ia salah bicara sedikit saja maka akan jadi masalah besar.
"Bukan sama siapa-siapa Kak, aku telponan sama Nina," jawab Bella dengan menunjukkan riwayat panggilan di ponselnya.
"Kenapa langsung dimatiin pas aku dateng?"
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Teen Fictionkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
