Motor seorang laki-laki bermarga Alfahri memasuki kediamannya, tentu saja bersama sang pengendaranya. Ia menghentikan motornya di depan pintu rumahnya tanpa berniat memasukkannya terlebih dahulu ke garasi, ia juga tak mencabut kuncinya. Membiarkan salah satu Bodyguard yang mengurusnya.
Tangannya bergerak membuka pintu besar rumahnya itu, keadaan Faren sedikit tidak sadar sebab pengaruh alkohol yang tadi lumayan banyak ia minum, membuat kepalanya pusing. Pesta malam ini berjalan lancar, dan ia sudah sangat lelah. Ingin sekali rasanya melempar tubuhnya ke atas kasur dan segera tidur.
"Dari mana kamu jam segini baru pulang?"
Faren mengernyit mendapati suara sinis itu, ia lalu menatap seseorang pria yang masih menggunakan setelan jas hitam duduk di sofa tunggal yang ada di ruang tamunya dengan membaca majalah.
"Daddy?" panggil Faren sedikit ragu, "Daddy udah pulang? Bukannya ke New York seminggu? Ini baru sehari." tanya Faren dengan sisa kesadarannya.
"Saya tanya dari mana kamu Faren!" kata Derren dengan melempar kasar majalah yang ia baca ke atas meja.
Mendengar bentakan Daddynya membuat Faren diam, ia melirik jam dinding yang ada disana. Masih jam sebelas malam. Belum terlalu malam dan rasanya ia tidak melanggar aturan jam pulang yang sudah disepakati sebelumnya.
"Main." jawab Faren.
"MAIN SAMPAI JAM SEGINI, HAH?! MAU JADI APA KAMU FAREN?! KERJANYA CUMA MAIN, MAIN, DAN MAIN AJA TERUS. SEKOLAH GA DIPEDULIIN. KAMU ITU HARUSNYA BANYAK-BANYAK BELAJAR DI RUMAH, BUKANNYA MAIN AJA TERUS. KAMU KAN UDAH KELAS DUA BELAS, UDAH MAU LULUS FAREN. DASAR ANAK GA BERGUNA!" marah Derren.
Faren menatap lamat Derren yang tengah memarahinya itu, entah ini efek alkohol atau apa, tapi kenapa rasanya Derren menjadi sosok yang berbeda di matanya. Seperti bukan Daddynya.
Banyak hal yang berbeda dari Derren biasanya. Pertama, Derren tak pernah menanyakan dirinya dari mana jika pulang larut malam, karena Derren pasti tau jika dirinya baru pulang dari bermain.
Kedua, Derren tak pernah tiba-tiba berbicara menggunakan nada tinggi atau bahkan sampai menggunakan kata 'saya dan kamu' mau semarah apapun Derren.
Ketiga, Derren tak pernah mempermasalahkan jam pulang malamnya, sekalipun mereka sudah menyepakati agar Faren tidak pulang lebih dari jam dua malam atau Derren tidak akan membiarkan anak itu masuk rumah, tapi meski Faren melanggarnya pun Derren tak pernah memarahinya, mungkin hanya bertanya kenapa bisa pulang pagi.
Keempat, Derren tak pernah protes tentang dirinya yang banyak main sebelumnya, Derren tak pernah meributkan hal sepele seperti ini.
Kelima, Derren tak pernah menyuruhnya belajar karena Derren tau Faren sudah pintar dan tidak pernah mengecewakan jika soal prestasi di sekolahnya.
Dan terakhir, Derren tidak pernah menghinanya seperti itu, karena sejak kecil Derren selalu menyebut dirinya jagoannya. Lalu ada apa dengan Derren hari ini? Kenapa terlihat begitu berbeda.
"Maaf Dad." hanya itu yang bisa Faren ucapkan.
"Saya dengar kamu juga ikut geng-geng an, iya? Hah?!" tanya Derren.
Tangan Faren terkepal saat Derren memperlakukannya seperti orang asing, Saya Saya Saya! Telinga Faren panas mendengarnya. Namun sebisa mungkin ia menahan diri agar tak sampai melawan Derren.
"Iya."
Derren langsung menghampiri Faren dengan raut wajah yang sangat terlihat jelas jika ia sedang marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Teen Fictionkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
