Tanpa mengetuk pintu, Faren langsung masuk ke dalam apartemennya. Ia sengaja tak mengetuk pintu karna tidak mau Bella yang masih sakit itu banyak bergerak.
"Loh, Kak Faren," sapa Bella yang sedang memasang sepatu. "Kok tumben ga ngetuk pintu?" tanya Bella.
"Kenapa pake seragam sekolah? Udah sembuh kaki lo?" tanya Faren dengan berjongkok di hadapan Bella dan menatapnya.
Bella yang duduk di sofa itu jadi harus sedikit menunduk untuk melihat Faren. "Enggak sakit kok Kak, aku masih bisa jalan. Masih bisa sekolah." jawab Bella membuat Faren berdecak.
"Kenapa harus?"
Bella menegakkan tubuhnya, ia menghela nafas lalu berkata. "Aku mau ikut olimpiade habis ini, jadi sebisa mungkin aku gamau absen sekolah Kak. Nanti aku ga dapet bimbingan."
Faren menyentuh kaki Bella pelan-pelan dan melihatnya. "Udah ganti perban?" tanya Faren dengan mendongak menatapnya.
"Udah." jawab Bella, "Kakak udah sarapan?"
"Belum."
"Yahh, aku ga masak hari ini. Mau aku buatin roti isi coklat aja ga?" tanya Bella.
"Lo juga belum makan?"
"Aku makan roti tadi."
"Kalo gitu nanti sarapan di kantin aja. Sekalian mau beli seragam baru buat lo." kata Faren dengan berdiri, ia juga menadahkan tangannya guna membantu Bella berdiri dan membantu memakai tongkatnya.
"Kak, meskipun ga pake tongkat aku tetep bisa jalan kok. Malah ribet kalo aku harus pake tongkat gini."
"Lo mau jalan pincang-pincang gitu?" tanya Faren dengan menukik tajam.
"Bisa jalan kok Kak." ujar Bella meyakinkan.
Faren menghembuskan nafasnya, "Yauda." kata Faren.
Faren memegangi tangan Bella, namun saat hendak memapahnya berjalan, Bella menghentikannya dengan menatap intens wajah Faren. Faren yang mendapati tatapan seperti itu jadi menaikan sebelah alisnya. "Why?"
"Kamu yang kenapa?" tanya Bella.
"Gue? Gue gapapa."
"Kamu keliatan beda, ga kaya biasanya. Kamu ada masalah ya?"
"Engga."
"Kemarin muka kamu babak belur, aku engga nanya karena aku fikir gamau terlalu ikut campur urusan kamu. Tapi kemarin kita diserang, itu siapa? Mereka kaya komplotan geng motor. Pasti musuh geng kamu itu kan. Geng ANOD. Terus sekarang muka kamu suram gitu, pasti kamu lagi ada masalah besar ya?" tanya Bella dengan merinci kejadian demi kejadian.
"Lo kenapa keliatan sensi banget kalo bahas geng ANOD?" tanya balik Faren.
"Karena aku gasuka geng motor. Pasti ga bener."
"Bukannya lo udah kumpul sama mereka? lo liat mereka aneh-aneh emang? Kan engga, mereka tetep kaya manusia normal kan. Ga berbuat macem-macem. Kenapa lo negative thinking mulu sama mereka? Mereka itu anggota gue Bel. Kalo mereka ga bener yang patut disalahin itu gue, karena gue Leadernya, gue yang harus bisa bimbing mereka." jelas Faren.
"Kak, kamu itu galak, tapi aku tau kamu itu anak baik-baik. Engga kaya mereka yang gatau aturan. Dan liat sekarang, kamu baru beberapa hari ikut geng itu aja udah kena masalah kaya gini kan. Wajar kalo aku ga suka. Aku gamau kamu ikut-ikutan kaya mereka."
"Bella, masalah gue kali ini ga ada sangkut pautnya sama geng ANOD."
"Kali ini? Itu artinya yang sebelumnya iya kan?" balas Bella membuat Faren diam. Ia jadi merasa seperti anak yang sedang dimarahi oleh Ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Jugendliteraturkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
