kisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini.
DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
mata Kania mengerjab pelan sebelum akhirnya terbuka lebar. Begitu bangun, ia tak langsung bergerak, melainkan diam menatap langit-langit kamar.
Setelah semua jiwanya terkumpul, barulah Kania menoleh ke samping, menatap wajah Damar yang masih tertidur dengan tenang.
Semalam ia tak sepenuhnya mabuk, jadi masih ingat jelas apa yang terjadi semalam. Walaupun jika sedang sadar, Kania pasti tak akan melakukan hal semacam itu. Alkohol mempengaruhinya membuat reaksi dan sifat alaminya muncul begitu saja tidak peduli siapa yang ada di hadapannya.
Namun Kania tidak begitu menyesal. Ia tak munafik kalau dia menyukai hal semalam.
"Manis banget wajahnya, ga ngebosenin." gumam Kania.
Kania bergerak pelan untuk berbalik badan menjadi tengkurap, ia ingin melihat wajah Damar lebih jelas.
"Damares," gumam Kania mengingat namanya.
Jari lentik Kania menyentuh bibir lelaki yang umurnya lebih muda 4 tahun darinya itu, "Konyol banget, bisa-bisanya gue tidur sama berondong. Masih sekolah lagi."
Damar adalah tipe orang yang kebo kalau tidur, susah dibangunkan. Jadi ia tidak akan terusik dengan sentuhan atau suara-suara yang mengganggu tidurnya.
Bibir Kania bergerak membentuk senyum saat menatap wajah Damar, kedua tangannya menumpu dagu, mau memanfaatkan momen ini dengan baik.
Ini adalah salah satu alasan kenapa Damar sering telat ke sekolah, selain karena bangunnya selalu siang. Malamnya Damar suka dugem dan tidur dengan perempuan hingga membuatnya bangun siang.
Lihat saja sekarang, ini sudah jam sepuluh siang, tapi Damar terlihat sangat lelap dalam tidurnya.
Dering ponsel yang terdengar nyaring itu mengganggu kegiatan Kania yang berlangsung selama beberapa menit, Kania mencari sumber suara, karena ia lihat HP nya yang tergeletak mengenaskan di lantai mati. Jadi pasti suara ponsel Damar.
Kania bangkit mengambil celana Damar semalam, ia merogoh sakunya dan mengambil ponsel milik lelaki itu.
Nama Arya tertulis jelas memenuhi layar untuk membuktikan siapa yang menelpon Damar.
Maka Kania bangunkan Damar, siapa tau telpon itu penting untuknya, "Damares, bangun."
Cukup susah membangunkan Damar hingga laki-laki itu membuka mata, perlu Kania panggil sampai beberapa kali baru bangun.
Begitu Damar mengerjabkan matanya, hal pertama yang menjadi objek pandangnya adalah Kania, wanita itu memperlihatkan layar ponselnya padanya, "Ada yang nelpon."