52. Prefential

712 18 4
                                        

Baru hari pertama di Amerika, Faren sudah didiami oleh Bella. Ini masih perkara semalam, Bella marah awet sekali. Sejak bangun tidur tadi Bella tidak mau berbicara dengan Faren, diajak bicara diam saja, ditanya pun tak menjawab. Faren sudah berusaha membujuknya dengan cara memeluk atau menciumnya, namun Bella menepis dan menghindarinya.

   Kini wanita itu tengah sibuk berbincang dengan sang adik, Refa. Sudah sejak satu jam lalu mereka melakukan panggilan vidio, entah apa saja yang mereka bicarakan, tapi Bella terlihat senang, ia tersenyum dan berbicara seperti biasa pada adiknya.  Sepertinya yang mereka bicarakan hanya seputar perempuan, karena Faren sempat mendengar ada obrolan seperti tas, baju, dan sepatu.

   Jika Bella tengah sibuk berbincang dengan Refa via vidio call, maka Faren tengah sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Ia tak terganggu meskipun ada Bella yang sejak tadi berbicara dengan adiknya, Faren hanya sesekali meliriknya untuk melihat Bella tetap nyaman duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari meja kerjanya.

   Ruang kerja Faren cukup besar dengan kaca yang hampir mengelilingi ruangan membuat pemandangan dari luar terlihat jelas, mungkin akan lebih tepat dikatakan jika ini adalah ruangan Derren yang kini berpindah menjadi ruangan Faren.

   Ruangan Faren begitu nyaman, terdapat ac dan juga penghangat ruangan, sofa panjang dengan beberapa bantal, juga rak buku di ujung yang berisi buku-buku seputar bisnis.

   Tadi saat Faren membawa Bella ke kantor, wanita itu sempat menjadi pusat perhatian. Posisinya dipertanyakan, siapakah dia dalam hidup Faren. Namun dilihat dari cara Faren memandang dan memperlakukan Bella, tentu tergambar jelas di mata semua orang jika Bella bukanlah orang sembarangan. Meskipun Faren tidak memvalidasi, tapi pertanyaan yang bersarang di kepala banyak orang bisa terjawab. Bella pasti kekasih Faren.

   "Kak."

   Faren menoleh ke sumber suara untuk memenuhi panggilan itu. Perempuan kesayangannya yang tengah menggunakan dress panjang berwarna putih itu berdiri di samping meja kerjanya, menatapnya masih dengan tatapan tak bersahabat dan raut wajah yang kurang enak dipandang, "Iya Sayang?" jawab Faren dengan berdiri di hadapan Bella.

    Faren tak sadar kapan Bella mengakhiri obrolannya dengan sang adik, padahal beberapa menit lalu ia perhatikan mereka masih asik mengobrol.

   "Aku mau belanja." kata Bella.

   Faren melangkah mendekat, satu tangannya merengkuh pinggang Bella, sedang yang satunya menghela rambut panjang Bella, "Nanti aja setelah aku selesai kerja, aku temenin kamu belanja sekalian keliling, ya?"

    "Engga, aku mau sekarang, sendirian. Ga sama kamu."

    Ekspresi apapun yang Bella tampilkan tak membuat wanita itu terlihat jelek, bahkan dalam keadaan marah sekalipun.

    "Coba minta yang baik. Bicara yang baik gimana Sayang? Aku mau denger."

   Jangan harap Bella akan memenuhi permintaan Faren, ia hanya menatap Faren tanpa membuka mulutnya sedikitpun. Ia masih kesal terhadap Faren, ia kepikiran mengenai perkataan Faren yang akan menyukai perempuan yang lebih cantik dari dirinya.

   Tau jika Bella tidak mau melakukannya, maka Faren mengecup bibir Bella, ia tak akan memaksa, "Sama Bodyguard ya? Ga mungkin sendirian kan? Apa lagi di negara orang kaya gini."

     Bella tak menjawab yang bisa diartikan jika kali ini Bella setuju. Jadi Faren menelpon seseorang agar datang ke ruangannya. Setelah itu ia mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu American Express pada Bella, "Kamu belum makan dari pagi," sejenak Faren melirik meja di depan sofa tempat Bella duduk tadi, secangkir teh dan sepiring kue yang disuguhkan pada Bella terlihat utuh, tidak tersentuh sedikitpun.

FABEL {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang