Yang datang ke kantor Polisi untuk Faren bukanlah Sifa ataupun Derren, melainkan William, asisten pribadi Daddynya. William yang datang untuk menyelesaikan masalah Faren.
"Gue ga pake barang itu Wil, gue juga bukan pengedar, lo tau gue, gue ga mungkin pake barang itu. Pokonya gue mau gue bebas hari ini juga, gue gamau ditahan. Lo pasti bisa urus ini kan?" ujar Faren menekan kalimatnya dengan suara tak terlalu keras agar polisi tidak mendengarnya.
"Lalu kenapa Polisi bilang Tuan sudah mengakui jika Tuan lah yang memakai barang itu?" tanya William.
"Panjang ceritanya, gue bersumpah gue ga pake. Pokonya tolong cari pengacara terbaik, urus semua ini atau apapun itu terserah lah Wil. Gue mau bebas hari ini juga, titik."
William diam menatap Faren, ia tau Faren tak pernah berbohong, jika dia mengatakan seperti itu padanya itu artinya Faren mengatakan yang sebenarnya. Pasti ada alasan kenapa Faren berbuat begitu.
"Lalu kenapa tidak menelpon Tuan Derren atau Nyonya Sifa?" tanya William.
Faren beruntung memiliki adik seperti Refa, Faren tidak tau jika yang datang adalah William. Refa melarang guru menghubungi kedua orangtuanya dengan alasan jika Daddy nya sibuk dan bundanya sedang sakit, lalu menyuruh menghubungi William saja karena William adalah kerabatnya. Faren bersyukur dengan apa yang Refa lakukan, gadis itu mengerti dengan sangat baik apa yang harus dilakukannya di saat seperti ini.
"Bunda bakal nangis kalo tau gue ditahan, apalagi kasusnya begini. Gue paling ga bisa kalo soal Bunda, lo tau itu. Kalo Daddy, ga mungkin dia gatau soal ini kan?"
William mengangguk, "Tuan Derren tau tentang ini, dan beliau tidak mau datang."
"Lo ke sini atas suruhan dia atau gimana?"
"Saya ke sini tanpa sepengetahuan Tuan Derren."
Faren menghembuskan nafas panjangnya, "Bebasin gue Wil." kata Faren lagi.
"Paling engga Tuan harus ditahan selama dua puluh empat jam dulu."
"Enggak! Ga bisa! Gue harus bebas hari ini juga William! Jangan bikin gue marah." peringat Faren.
"Oke, saya urus sekarang, tapi prosesnya jelas bakal lama, saya harap Tuan bisa lebih bersabar." William mengalah. Sebenarnya ia takut bertindak di belakang Derren dan tanpa perintah atau sepengetahuan Derren. Namun ia juga tak bisa diam saja melihat Faren dipenjara.
Faren mengangguk, "Urus sana, cepet."
"Kalau begitu saya pamit dulu." William pergi.
Faren belum dimasukkan ke jeruji besi karena ia masih di proses, Faren hanya dibiarkan duduk di salah satu kursi dengan banyak polisi di sekitarnya yang sedang bertugas. Tangannya masih diborgol, dan keadaan Faren terlihat berantakan.
"Bagaimana Faren?" salah seorang polisi yang mengurus kasus Faren datang menghampiri untuk memastikan keadaan Faren.
"Keluarga saya sudah datang, dia lagi cari pengacara untuk urus kasus ini." balas Faren membuat Polisi itu mengangguk lalu pergi.
Faren merosotkan tubuhnya, ia menyandar pada sandaran kursi dengan memejamkan matanya. Ia sudah berfikir apa yang akan ia lakukan setelah ini.
Baru saja Faren memejamkan matanya, belum sampai lima menit, namun ia sudah membuka matanya lagi saat pipinya tiba-tiba terasa dingin. Bella berdiri di depannya dengan menempelkan sebotol air dingin ke pipi Faren, gadis itu juga membawa sebungkus roti coklat di tangan yang lain.
Faren langsung duduk dengan tegap, "Sayang? Kamu ke sini?" Faren langsung melihat jam dinding, masih jam sepuluh siang, belum waktunya pulang sekolah. "Kamu bolos?"
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Jugendliteraturkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
