"Mana Daddy? Kenapa bisa kecelakaan?" tanya Faren pada salah satu Bodyguard yang berjaga di depan ruangan Derren.
Jika dijumlah ada sekitar 5 Bodyguard di sini. Dan mereka semua langsung menunduk takut saat melihat Faren. "Maaf Tuan."
"GUE GA BUTUH MAAF LO ANJING! GUE NANYA, JAWAB!" bentak Faren marah.
"Tadi Tuan Derren selesai meeting proyek besar di luar kota, kami membawa tiga mobil. Satu berisi Tuan Derren dan William saja, lalu dua mobil kami kendarai untuk mengawal Tuan Derren. Tapi saat di tol tadi, tiba-tiba saja ada truk yang menabrak mobil Tuan Derren hingga terlempar ke jurang dan mobilnya meledak. Kami sudah mengonfirmasi sebab truk itu menabrak mobil Tuan Derren, hal itu dikarenakan supir truk tersebut dalam keadaan mabuk saat berkendara. Sekujur tubuh Tuan Derren dan William terkena luka bakar, sekarang Dokter sedang menangani." jelas Bodyguard itu yang tak berani menatap wajah Faren.
Si Putri keluarga Alfahri itu terus memeluk Bundanya dengan menangis, sedangkan Sifa tak bisa berekspresi, ia bingung. Ia ingin menangis, namun jika ia menangis bagaimana dengan anak-anaknya? sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak keluar supaya anak-anaknya juga tidak semakin panik. Ia berusaha yakin jika di dalam sana, Derren baik-baik saja.
Melihat Bundanya yang hanya diam saja menatap pintu UGD jadi membuat Refa semakin sedih, Sifa juga pasti lebih hawatir daripada dirinya, tapi Sifa berusaha bersikap tegar. "Bunda, kita duduk dulu aja." ajak Refa dengan menuntun Sifa untuk duduk di kursi panjang rumah sakit.
Sedangkan Putra pertama keluarga Alfahri yang kerap dipanggil Tuan Muda itu berdiri tepat di depan pintu UGD, seolah ia sudah siap menghadang dokter yang menangani Derren jika sampai Daddy nya tidak baik-baik saja.
Para manusia berlalu lalang di rumah sakit ini, dokter dan suster pun begitu, siap melayani masyarakat yang hendak berobat untuk mendapatkan kembali kesehatannya yang utuh. Rumah sakit siap melayani dua puluh empat jam untuk membuat masyarakat yang sakit menjadi sehat.
Malam semakin larut, kursi panjang rumah sakit yang Refa dan Sifa duduki terasa semakin dingin, mereka sudah menunggu selama tiga puluh menit tapi tak ada tanda-tanda Dokter akan keluar dari ruangan.
Di depan pintu ruangan, Faren tetap berdiri di sana menunggu kabar Daddy nya, sejak tadi Faren terus berdoa dalam hatinya meminta tuhan menyelamatkan Daddy nya. Faren tak ingin apapun terjadi pada sang Daddy.
"Ngantuk ya Sayang?" tanya Sifa dengan mengelus punggung tangan anaknya yang sedang menyandarkan kepalanya pada bahu Sifa.
"Sedikit Bunda." jawab Refa.
Sifa ingin kembali berbicara, namun dokter yang menangani Derren keluar dari ruangan yang membuatnya jadi segera berdiri diikuti Refa yang sama-sama ingin tau keadaan Derren.
"Dokter, gimana keadaan Daddy saya Dok? Dia baik-baik aja kan?" tanya Faren.
"Mohon maaf Mas, kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien. Tapi luka yang diderita pasien cukup parah hingga kami tidak bisa menyelamatkan beliau. Pasien dinyatakan meninggal."
"OMONG KOSONG!" bentak Faren langsung mencengkeram kerah dokter itu. "SELAMETIN DADDY GUE GIMANAPUN CARANYA ANJING! GUE GA PEDULI POKOKNYA SELAMETIN DIA BAJINGAN!"
Dua bodyguard di sana menahan tubuh Faren, mereka mengerti seberapa terpukulnya Faren dengan berita tersebut, sosok Daddy yang sejak kecil Faren banggakan kini dinyatakan telah tiada begitu saja adalah hal terberat bagi Faren.
Refa dan Sifa sudah menangis, pertahanan Sifa sedari tadi akhirnya runtuh, kakinya lemas hingga ia terduduk di ubin rumah sakit yang dingin, "Bunda," Refa memeluk Sifa dengan menangis di bahunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Jugendliteraturkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
