48. Lucky

435 14 0
                                        

Pukul dua dini hari Faren terbangun dari tidurnya kala merasakan jika Bella tidak tidur dengan tenang dalam peluknya.

   "Emmhhh... Enghhh...Kak Faren..."

   Racauan Bella yang tak kunjung berhenti akhirnya membuat Faren terusik dan membuka mata, ia langsung menunduk untuk melihat perempuan itu.

   Tangan Faren tergerak untuk memegang pipinya, namun Faren langsung terkejut begitu merasakan suhu tubuh Bella yang panas, "Sayang." Faren sampai sedikit bangun.

    "Kak Faren.... Kak jangan tinggalin aku... Kak... Emhhh.... Kak Faren...."

   "Sayang, hei, aku di sini, ssstttt tenang okay, aku ga kemana-mana." Faren mengelus kepala Bella untuk menenangkannya.

    "Kak Faren...."

   "I'm here Babe, it's okay Sayang." Faren mengecup kening Bella lama dengan terus berusaha menenangkannya.

    "Aku di sini, aku ga kemana-mana, tenang ya, bobo yang nyenyak, aku di sini sama kamu, jangan hawatir, ga perlu takut, aku selalu di sini."

    Beberapa menit kemudian Bella mulai kembali tenang, ia tidak lagi meracau, nafasnya teratur, jadi Faren kecup keningnya lagi sembari menaikkan selimut. "Panas banget." gumam Faren, raut hawatirnya tak bisa disamarkan oleh kegelapan kamar.

     Dengan hati-hati Faren membenarkan posisi tidur Bella agar lebih nyaman, kemudian ia menghidupkan lampu tidur. Dahi Bella terlihat sangat basah oleh keringat, kulitnya terasa begitu panas. Padahal Faren sudah menebak jika Bella pasti akan demam, tapi tak ia sangka jika tubuhnya sampai sepanas ini.

    Pelan-pelan Faren beranjak dari tempat tidur, ia menuju dapur, merebus air panas untuk mengompres Bella. "Padahal semalem udah minum obat." gumam Faren sembari menyiapkan handuk kecil dan juga baskom.

    Lima menit kemudian Faren kembali ke kamar dengan baskom, air hangat, dan juga handuk. Faren mengompres Bella dengan telaten, menjaga Bella semalaman agar tidur perempuan itu cukup dengan mengorbankan waktu tidurnya. Padahal Faren sangat sibuk, tapi ia tak enggan merawat Bella dalam keadaan seperti ini meskipun ia lelah. Faren lebih hawatir pada keadaan Bella dari pada dirinya sendiri.

   Setiap dua menit sekali, Faren membilas handuk kecil itu agar tetap hangat, tak ada satupun keluhan keluar dari bibir Faren, matanya memancarkan ketulusan, bahkan bulan yang mengintip di celah gorden akan mau bersaksi jika sesiapapun bertanya tentang bagaimana Faren mencintai Bella.

   Hingga jam lima subuh, Faren baru terlelap karena ketiduran dengan posisi duduk dan menyender pada sandaran ranjang, tangannya menggenggam tangan Bella seperti memastikan jika Bella selalu berada di sisinya dan tak akan pernah hilang.

   Begitu pagi menjelang, sinar matahari membangunkan Bella dari tidurnya, perempuan itu membuka mata, yang begitu bangun langsung mendapati pemandangan sang kekasih yang tidur dalam posisi duduk di sampingnya.

   Bella melenguh pelan, ia merasakan seluruh tubuhnya sakit, kepalanya juga terasa berat sekali, tapi ia tetap berusaha bangun hingga handuk di keningnya jatuh begitu ia terduduk.

   Bella menatap handuk putih yang masih basah itu dengan bingung, kemudian menatap Faren, wajah Faren begitu menggambarkan kelelahan yang jelas dilihat oleh siapapun. "Kak Faren ga tidur semaleman? Kompres aku?" gumam Bella.

    Jemari Bella menghalau rambut Faren yang menutupi matanya, ia tersenyum tipis, "Cuma kamu orang yang selalu rawat aku waktu aku sakit, sebelumnya, engga ada yang setulus kamu. Muka kamu keliatan capek banget, tapi masih mau repot-repot ngompres aku dan jagain aku semaleman."

FABEL {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang