42. Business

758 33 6
                                        

    Umur memang tidak ada yang tau, kemarin terlihat sehat-sehat saja, namun ternyata hari ini sudah tiada. Tidak ada yang tau kapan tuhan akan menjemput ajal kita, itu kenapa kita selalu diperintahkan untuk berbuat baik kepada siapapun.

   Sosok Derren akan selalu dikenang oleh rekan bisnis dan keluarganya. Refa sudah terlelap dengan mata yang basah. Gadis itu benar-benar tidak mau keluar kamar sama sekali, sedangkan Kana setia di sampingnya untuk menenangkannya dan menjaganya. Kana juga sangat merasa kehilangan, Derren adalah sosok yang sangat berarti juga untuknya, sangat.

   Sedangkan sang istri yang ditinggalkan tengah tidur menyamping di ranjang dengan mengelus space tempat tidur suaminya. Air matanya mengalir membasahi bantal, Sifa tidak menangis meraung-raung, namun ia telah kehilangan setengah jiwanya. Rasanya sakit sekali ditinggal suaminya tanpa pamit seperti ini. Sosok yang begitu mencintainya, selalu memeluknya dan menciumnya telah pergi jauh tanpa meninggalkan satu pesan pun untuknya.

   Dalam keadaan berduka, Sifa dipaksa untuk tetap kuat di depan orang-orang, semuanya mengucapkan bela sungkawa seolah mengerti seberapa hancur hati Sifa. Ia menangis dalam diam, sendirian. "Kenapa secepat ini Sayang? Aku ga bisa sendiri." lirih Sifa.

   Seluruh tubuhnya sudah dipijat oleh asisten rumah tangga yang ada, ia juga diberi vitamin agar tetap sehat. Tapi percuma saja jika yang sakit adalah hatinya. Matanya berusaha terpejam dan beristirahat karena ia juga sudah lelah. Membayangkan sang suami memeluknya seperti biasa dan mencium keningnya. Telinga Sifa mendengar suara Derren yang berasal dari ingatannya sendiri. Malam ini, Sifa tidur tidak lagi di dekap suaminya, melainkan diselimuti kesedihan dan dibelai kerinduan.

   Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Damar, Arya, Albara, dan Nina masih belum pulang, namun kediaman Alfahri itu sudah mulai terlihat sepi. Anggota Geng ANOD yang tadi ramai datang pun sudah pada pulang. Kini Faren tengah berdiri menghadap beberapa orang rekan bisnis Daddy nya membicarakan kelanjutan pekerjaan.

   Dalam dunia bisnis tidak ada yang namanya hidup atau mati, karena bagi mereka hanya ada untung dan rugi. Bahkan jika Derren baru dikubur tadi pagi pun, kini para orang-orang itu hanya sibuk membicarakan kerjasamanya membuat Faren tak bisa berbuat banyak selain melanjutkan usaha yang sudah Derren bangun sejak dulu.

   Faren terlihat berwibawa dengan kemeja dan celana bahan berwarna hitam-hitam itu. Ia berbicara dengan lugas dan tegas meskipun dalam keadaan yang kacau. Dengan ditemani Bella yang setia berada di sampingnya, Faren dikuatkan. Bella terus merangkul sebelah tangan Faren dan mengelusnya, ia juga tersenyum pada orang lain. Siapapun bisa menilai jika Bella itu ramah.

   Meskipun lelah karena terus berdiri dan menyambut tamu-tamu yang datang sejak tadi, tapi Bella tak mengeluh sedikitpun, ia senang bersama Faren, apalagi saat Faren memperkenalkan dirinya dan mengakui jika ia adalah pacarnya. Itu suatu kebanggaan tersendiri untuk Bella.

   "Sekali lagi terima kasih atas kerjasamanya Pak, Saya akan usahakan yang terbaik." ucap Faren dengan bersalaman pada beberapa orang itu.

   "Kalau begitu kita pamit dulu Pak Faren. Selamat malam."

   Faren menganggukinya dan menatap kepergian orang-orang itu. Kini semua tamu sudah pergi kecuali teman-temannya.

   "Kamu cape ya?" tanya Faren dengan mengelus kepala Bella.

   Bella menggeleng dan tersenyum, "Kamu pasti lebih capek." ujarnya.

   "Ren, kita balik dulu, udah malem." celetuk Albara yang menghampiri Faren bersama yang lain.

    "Thanks udah dateng." balas Faren.

   Mereka berpelukan ala lelaki, Damar dan Arya pun mengikuti, kini saatnya giliran Nina, gadis itu melakukan cipika-cipiki pada Faren dan menggenggam sebelah tangannya. "Yang kuat ya Kak, kamu hebat, aku pulang dulu, Bye." katanya.

FABEL {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang