Gerbang besar berwarna hitam terbuka otomatis kala sebuah mobil Alphard memasuki pekarangan rumah besar bak istana itu.
Faren dan Bella yang baru saja tiba setelah menghabiskan waktu sekitar 24 jam penerbangan akhirnya sampai rumah di jam 4 sore.
Terhitung tepat hampir satu minggu mereka berada di New York, mereka berangkat hari jumat minggu lalu, dan sampai di rumah hari sabtu sore. Selama itu, mereka habiskan untuk bercengkrama, hubungan keduanya semakin baik dan lengket. Bahkan sudah seperti honeymoon saja rasanya.
Baru saja pintu mobil terbuka dan kedua pasangan remaja itu hendak keluar, tapi Sifa sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut anak dan calon menantunya.
Senyum kedua remaja SMA itu melebar, mereka bergegas turun, dan Faren lebih dulu memeluk sang Ibu yang sudah lama tak ia lihat.
"Akhirnya anak Bunda pulang."
Rengkuhan Faren erat sekali, ia merindukan Bundanya, sangat. Seumur hidup Faren, ini adalah perjalanan paling lama yang dilakukannya tanpa sang Bunda. Ini pertama kalinya Faren jauh dari Bundanya selama satu minggu. Biasanya tak pernah.
Setiap hari, sejak lahir, sampai sebesar ini, tak ada satu hari pun yang Faren habiskan tanpa bertemu sang Ibu. Meskipun Faren lebih sering diluar, main, atau jarang tidur di rumah sekalipun, Faren tetap menyempatkan pulang meski hanya sepuluh menit.
Keluarga cemara itu tak pernah jauh, tak pernah renggang, tak pernah ada kekacauan. Biasanya yang sering perjalanan ke New York adalah sang Daddy, ditemani sang Bunda. Faren dan Refa pun selalu ikut jika Sifa ikut. Tapi jika Sifa tak ikut, maka Derren akan pergi sendiri.
Untuk pertama kalinya, Faren pergi ke New York sendiri, ditemani Bella saja, untuk bertanggung jawab menjalankan kewajibannya sebagai seorang penerus.
"Aku kangen banget Bunda."
"Bunda juga kangen sekali sama kamu Nak, kamu ga pernah jauh dari Bunda, ini pertama kalinya kan."
Faren mengangguk di pelukan Sifa, tubuh besar Faren menelan tubuh kecil ibunya yang tak seberapa itu.
Di belakangnya, Bella mengulum senyum melihat itu, tak perlu heran jika Faren tumbuh menjadi sosok yang baik, keluarganya selalu penuh kasih sayang seperti ini, Faren selalu bersikap manis entah pada adiknya atau bundanya, itu kenapa Faren juga bisa memperlakukan Bella dengan baik.
Begitu pelukan keduanya telerai, Sifa menciumi wajah Faren, dari kedua pipi hingga keningnya, "Kamu sehat? Baik-baik aja di sana? Semuanya lancar kan urusannya?"
Faren terkekeh kecil, ia tak risih ataupun malu meski dicium di depan Bella seperti itu, "Bunda ga perlu hawatir, semuanya baik-baik aja."
"Bunda percaya sama kamu."
Mata Sifa berkaca-kaca, anaknya sudah besar, sudah siap menjadi pemimpin dan menggantikan suaminya, bayi kecil yang dulu selalu ia timang, kini tumbuh sebesar ini, bahkan tingginya mengalahkan dirinya yang hanya sebatas dada Faren, ia sampai harus selalu mendongak untuk melihat putranya itu.
"Bunda, please.... Don't cry," tangan besar Faren menangkup wajah sang bunda, setetes air matanya tak ia biarkan jatuh, maka ia usap secepatnya begitu turun.
"Bunda bangga sama kamu."
"Bukan Faren yang hebat, tapi Bunda yang luar biasa."
Pipi Faren ditepuk dua kali, "Ga ada satupun di diri kamu yang luput dari gennya Daddy, dari ujung rambut sampe kaki, semuanya mirip. Bahkan cara jalan, sampe cara ngomong kamu juga mirip, manis banget kalo udah muji orang."
"Kan anaknya."
Terselip kesedihan di hati keduanya ketika membahas tentang sang kepala keluarga yang telah tiada, tapi Faren maupun Sifa sama-sama berusaha terlihat tegar, tidak ingin menciptakan tangis lebih banyak jika dilanjutkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Genç Kurgukisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
