Matahari mulai naik pertanda pagi sudah tiba, waktunya semua manusia bangun dan memulai aktifitasnya masing-masing.
Tapi pagi ini terasa begitu dingin, jangankan untuk bangkit dari kasur, yang ada orang-orang malah menarik selimut untuk membungkus dirinya agar tetap hangat.
Namun tidak dengan Kania, perempuan itu tidak merasa kedinginan sama sekali, ia nyaman berada di tempat tidurnya.
Bagaimana tidak, laki-laki bertubuh besar tengah melingkupinya, membuatnya tetap hangat.
Tapi tunggu sebentar.
Mata Kania terbuka kala menyadari ada yang sedikit mengganggu, ia melihat perutnya yang dilingkari tangan besar, tangan besar itu mengunci dirinya sampai tidak bisa bergerak.
Jadi Kania menoleh ke belakang untuk melihat siapa pelakunya, Damares. Tentu saja, siapa lagi. Tapi bukankah semalam lelaki itu bilang akan pulang ke rumahnya? Lalu kenapa pagi-pagi sudah ada di sini, memeluknya dari belakang tanpa sungkan seperti Kania ini sudah menjadi miliknya.
"Damares, bangun. Udah pagi," Kania menepuk-nepuk lengan Damares yang melingkar di perutnya.
"Damares, bangun Damares, lo harus sekolah hari ini, bangun."
Damares bergumam, bukannya bangun, lelaki itu malah mengeratkan pelukannya pada Kania.
"Bangun Damares, udah pagi."
"Iya," Damares menduselkan kepalanya ke leher belakang Kania, bau tubuhnya langsung masuk ke indra penciuman Damar, wangi sekali, padahal baru bangun tidur.
Perlahan Damar membuka matanya sembari mengecup bahu dan leher Kania, "Wangi banget, sebelum tidur pake parfum apa gimana," guman Damar yang bisa Kania dengar dengan jelas.
"Pake lotion lah, masa mau tidur parfuman dulu," heran Kania.
Kania itu seperti manusia yang tidak memiliki bau badan, selalu wangi, bahkan terkadang wangi Kania itu mudah sekali tertinggal di beberapa tempat. Seperti kamar mandi contohnya.
Damares mengerti Kania adalah perempuan, sudah pasti banyak jenis perawatan tubuh yang dipakainya. Tapi masalahnya Damar tak hanya pernah dekat dengan Kania.
Banyak jenis perempuan yang Damar kenal, mereka sudah pasti wangi dengan selera parfum atau produk masing-masing. Tapi wanginya normal seperti orang lain pada umumnya. Akan tercium harum saat dekat dengan orangnya, jika sudah berjarak ya sudah tidak tercium.
Sedangkan Kania itu berbeda, perempuan itu seperti memakai parfum setiap saat. Wanginya semerbak sekali dan tak pernah hilang, baunya khas Kania sekali.
Arya saja sering protes padanya karena setiap habis bertemu Kania, wanginya selalu menempel pada tubuh Damar. Padahal jika ia bersama perempuan lain, Arya tak pernah berisik, lelaki itu tak pernah terganggu atau mau peduli. Berbeda jika Damar habis bertemu Kania, Arya pasti langsung menyadarinya dan meledeknya habis-habisan. Arya bahkan pernah mengira jika dirinya memakai parfum Kania karena kecintaan. Padahal tidak sampai sebegitunya meskipun Damar benar sedang kecintaan pada Kania.
"Lo tiap mandi berendem pake air parfum ya? Baunya ga ilang-ilang, khas banget."
Kania tertawa geli, "Gue kan kerja di salon, setiap hari selalu pegang produk kecantikan yang wangi-wangi, hampir seharian kaya gitu terus. Gue juga extra ngerawat badan, ya wajar. Cewe cewe lain kalau pinter ngerawat diri juga pasti wangi."
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Novela Juvenilkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
