"Kita pulang yuk, udah malem." ajak Bella dengan melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Nina yang sedang tersenyum karena pesannya sudah dilihat oleh Faren pun sontak mengalihkan pandangannya pada Bella. "Em...aku ke toilet bentar ya, habis itu kita pulang." izin Nina dan Bella mengangguk.
Setelah Nina pergi, Bella melempar punggungnya pada sandaran kursi, sudah semalam ini dan ia belum pulang, namun tak ada tanda-tanda Faren mencarinya sedikitpun. Jangankan menelpon, mengirim pesan saja tidak. Itu artinya Faren belum kembali ke apartemen.
Tapi meskipun Faren tidak kembali ke apartemen, apakah tidak ada niat Faren untuk menelponnya guna memastikan apakah dia sudah pulang dengan selamat atau tidak? Apa Faren benar-benar sudah tidak peduli dengannya?
Padahal mereka baru saja menjalin hubungan, tapi sudah sering bertengkar seperti ini, Faren juga tidak peka. Faren tidak pernah mengejarnya saat ia marah, tidak pernah berusaha membujuknya. Bahkan tidak mencarinya. Membuat Bella semakin kesal saja.
"Permisi Mbak, kami mau tutup." salah satu pegawai menghampiri Bella membuat Bella terkejut karenanya.
"Ah sebentar ya Mbak, temen saya masih di toilet. Tunggu sebentar." ujar Bella membuat pegawai itu mengangguk ramah.
Sepuluh menit kemudian Nina keluar dari kamar mandi membuat Bella sedikit berdecak melihatnya, "Kamu kok lama banget sih, tokonya udah mau tutup tau, ini nungguin kamu doang." kata Bella membuat Nina menyengir.
"Ya maaf, namanya juga kebelet." Nina celingukan untuk mengecek apakah Faren sudah datang atau belum, tapi sepertinya belum.
Mereka berdua pun keluar dari kedai cafe bersamaan, namun baru beberapa langkah mereka menjauhi pintu cafe itu, tiba-tiba saja sekitar lima orang anak remaja yang berpakaian serba hitam mengelilingi mereka.
"Hai cantik, mau kemana nih malem-malem gini?"
Lima orang itu menyeringai buas seolah mendapatkan mangsa yang mereka cari, Nina langsung bersembunyi di balik badan Bella karena takut, sedangkan Bella masih trauma dengan kejadian penculikannya, ia jadi gemetar.
"K-kalian mau ngapain?!" Bella gemetar dibuatnya.
Salah satu orang mencolek dagu Bella membuat Bella langsung menepisnya. "Galak banget sih," ujarnya.
"JANGAN SENTUH CEWEK GUE BAJINGAN!" teriak Faren yang baru saja datang, lelaki itu turun dari motornya dan langsung melempar salah satu lelaki yang tadi ia lihat menyentuh Bella dengan helmnya.
Faren menghampirinya dan langsung menghajar lelaki itu, namun Faren kalah jumlah, ia terkena pukulan salah satu temannya. Meski begitu bukan alasan Faren untuk kalah, Faren melawan lima orang itu dengan brutal.
Bella terkejut melihatnya, ia ketakutan sampai meremas tangannya sendiri. Sedangkan Nina sampai menutup mulutnya dengan tangan karena Faren datang tepat waktu menyelamatkannya dan melawan lima orang itu seorang diri. Seperti sang hero dalam sebuah film romansa.
"ANJING LO BERANINYA GANGGUIN PUNYA GUE!" sentak Faren.
Lima orang itu habis dihajar Faren begitu saja, mereka langsung kabur karena tak ingin dipukul Faren lagi. Mereka hanyalah bocah ingusan yang suka cari masalah.
Setelah melihat orang-orang itu kabur, Faren langsung menoleh pada Bella, ia menatap Bella tajam. "Kenapa jam segini masih di luar? Malem-malem bukannya diem di rumah malah kelayapan. Gue kan udah bilang setelah kelas harus langsung pulang!" marah Faren.
Nafas Faren memburu sehabis melawan lima orang tadi sekaligus terbawa emosi, jika tadi ia tidak datang karena Nina mengabarinya, maka entah akan seperti apa kondisi Bella.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Teen Fictionkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
