Butuh waktu sekitar dua puluh jam untuk perjalanan dari Indonesia ke New York memakai helikopter milik Algara. Itu artinya hampir satu hari penuh.
Faren sampai di kota New York, Amerika Serikat, pada jam 1 siang. Itu karena perbedaan waktu yang ada di Indonesia dan New York selisih sebelas jam. Yang berarti di indonesia sekarang sudah jam 2 malam.
Begitu turun dari helikopter, Faren langsung meregangkan otot-ototnya yang pegal, perjalanan jauh ini sangat melelahkan, apalagi ia hanya bisa duduk selama itu. "Kita langsung bergerak sekarang?" tanya Refa yang berada di tengah-tengah Algara dan Faren.
"Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk kita sampai di tempat Derren disekap, kita harus jalan sekarang, anak buah saya sudah standby di sana." jelas Algara membuat Faren dan Refa mengangguk.
Ketiga orang itu lalu masuk ke dalam mobil hitam yang menjemput mereka. Di dalam mobil, Algara menjelaskan strategi dan langkah yang akan mereka gunakan nanti. "Di luar akan ada banyak sekali penjaga, anak buah Gilang. Nanti sebisa mungkin kita cari tempat sembunyi dan habisin mereka satu persatu dulu, baru setelah itu kita masuk. Kalian berdua pergi ke tangga sebelah kanan, dan cari Derren dengan dibantu anak buah saya nanti, sedangkan saya akan pergi ke sebelah kiri untuk meringkus Gilang sama rekan-rekannya."
Algara memberikan Refa dua pistol, sedangkan Faren hanya diberikan satu. "Kalian berdua harus bisa bekerja sama dengan baik, dengan kemampuan Refa, Refa berjalan di belakang Faren, tugas kamu akan lebih banyak untuk menyingkirkan orang-orang di sana dan memberi Faren jalan supaya Faren bisa mencari keberadaan Derren dengan cepat. Hati-hati, jangan sampai malah melukai kubu kita sendiri, anak buah saya memiliki cap tangan gambar harimau di punggung tangannya, ingat itu. Saya beri kalian pistol kedap suara supaya saat kita menyerang anak buah Gilang yang berjaga di luar, tidak sampai menimbulkan keributan dari anak buah yang berjaga di dalam. Pistol ini akan sangat membantu kita. Jadi gunakan dengan baik."
"Untuk Faren, kendalikan emosi kamu, jangan sampai hilang fokus karena itu bisa menjadi bumerang untuk diri kamu sendiri, kita butuh ketenangan untuk mencapai kemenangan. Kemarahan hanya akan merusak segalanya." peringat Algara dan Faren mengangguk, sepertinya itu akan susah, namun Faren akan mencobanya.
Tak lama setelah itu mobil berhenti di sebuah hutan belantara yang dipenuhi pohon. Algara memimpin, ia turun lebih dulu untuk menunjukkan jalan.
"Kalo gue, Refa, sama lo nyerang mereka, tugas anak buah lo ngapain?" tanya Faren.
"Jumlah anak buah Gilang sangat banyak Faren, sebagian anak buah saya akan ikut membantu kita menyerang, sedangkan sebagian lagi akan mengepung tempat itu dan menjaga supaya saat kita menyerang nanti Gilang dan rekannya tidak akan kabur." balas Algara.
Faren sudah bisa melihat bangunan tua dengan lantai lima, begitupun dengan Refa, mereka bertiga mulai berjalan mengendap. "Tempat Derren di lantai tiga, tepatnya di sebelah sana, kamu cari saja dimana Derren berada. Karena saya pergi ke tempat yang berlawanan dengan kamu, saya harap kalian bisa mengatasi ini sendiri, waspada penyerang dari lantai empat dan lima juga. Jangan pernah lengah."
Refa dan Faren bertatapan, keduanya bertos lalu mengangguk. Ketiganya bersiap, Algara lebih dulu menembak satu orang hingga orang itu tumbang, setelahnya Faren dan Refa menyusul. Dalam waktu sekejap semua orang yang berjaga di depan langsung tumbang karena anak buah Algara juga ikut andil membantu mereka.
Melihat anak buah Gilang sudah tumbang. Faren, Refa, Algara dan puluhan orang dengan baju serba hitam lainnya keluar dari tempat persembunyian, mereka semua berkumpul di depan gedung itu, mulai menyebar untuk mengepung tempat itu.
Para anak buah Gilang sudah terkapar di tanah dan Faren melewatinya begitu saja, ia terus waspada, menoleh ke arah kanan dan kirinya, sedangkan Refa di belakangnya berjalan mundur untuk berjaga-jaga tak ada serangan dari belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Teen Fictionkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
