44. The Queen

780 26 3
                                        

     "Halo Mbak, boleh kenalan ngga?"

   Bella terkejut saat seorang laki-laki asing tiba-tiba menghampirinya dan mengajaknya kenalan, aneh sekali.

   Ia sedang berdiri di dekat toilet laki-laki, menunggu Faren yang sedang buang air kecil. Namun siapa sangka akan ada yang mengajaknya berkenalan di sini.

   Sebenarnya Bella risih, namun Bella tak bisa menolaknya, ia tak enak, takut di cap sebagai perempuan sombong atau tidak baik. Akhirnya Bella menerima jabat tangan orang itu, "Bella Adeline." ucap Bella.

   "Panggil aja Tyo." lelaki itu sedikit mengelus punggung tangan Bella menggunakan ibu jarinya.

   Spontan Bella melepaskan jabatan tangannya membuat Tyo tertawa kecil, "Kamu cantik banget sih, bikin aku jadi tertarik."

   "Makasih." Bella mulai gelisah, ia tak nyaman. Ia berharap Faren agar segera datang untuk menyelamatkannya dari lelaki asing yang mengganggunya ini.

   Sebenarnya Bella memang tipikal orang yang tidak pandai bergaul, selain itu Bella penakut, ia juga tak suka berinteraksi dengan lelaki kecuali jika lelaki itu sudah Bella kenal. Jangankan lelaki asing, pada teman-teman Faren saja terkadang Bella masih canggung, sungkan, dan takut. Percayalah, Bella hanya bisa bersikap leluasa hanya pada Faren. Itupun karena Faren adalah kekasihnya yang sudah berhasil memberi Bella rasa nyaman dan aman. Sebelum itu, Bella juga takut pada Faren.

   "Kamu sendirian aja di sini? Atau sama temen?" tanya Tyo lagi, namun belum juga Bella menjawab, ia sudah bertanya lagi, "Ah aku boleh minta nomor kamu ngga? Atau akun sosial medianya mungkin? Biar kita bisa kenalan lebih jauh."

    "Kosong, delapan, lima, lima, tujuh, enam," bukan, bukan Bella yang menjawab, melainkan Faren yang baru keluar dari toilet itu dan segera merangkul pinggang Bella. "Dua, tiga, delapan, kosong, tujuh, tujuh." tatapan Faren menajam seolah bisa menusuk jantung laki-laki itu menggunakan matanya.

    Sedangkan Tyo dibuat terkejut kala laki-laki yang baru datang itu merangkul pinggang Bella, apakah dia pacarnya? Pikir Tyo.

   "Kenapa diem? Catet. Katanya mau minta nomornya." ujar Faren.

    "Ah Mas pacarnya? Em... Maaf Mas, saya pikir Bella masih single. Yasudah kalau gitu, saya duluan ya Mas, pacarnya jaga baik-baik, jangan ditinggal-tinggal, cantik soalnya." ujar Tyo dengan tertawa ringan lalu pergi begitu saja.

   "Udah." ujar Bella saat mata Faren tak lepas menatap laki-laki yang baru saja berusaha mengincar miliknya.

   Faren menatap Bella lamat, kemudian berucap, "Lain kali kamu pake masker aja." ujar Faren dan berjalan mendahului Bella.

   Bella tertawa kecil lalu segera menyusul Faren, ia merangkul tangan Faren yang terlihat bete itu. "Kamu marah?" tanya Bella.

   "Kamu seneng digituin?" tanya Faren dengan melirik Bella sekilas.

   "Engga, tadi aja aku risih sebenernya, pengennya gamau kenalan sama dia, tapi aku ga bisa nolaknya. Gaenak, takut. Kalo pas aku tolak terus dia marah gimana?"

   "Jadi, mending aku yang marah dari pada dia yang marah?" Faren menatap Bella dengan alis menukik.

   "Bukan gitu ish. Kamu jangan marah, aku lebih takut juga kalau kamu yang marah. Kamu kan kalo marah serem, kaya Singa."

   Faren diam saja dengan menatap lurus ke depan, membiarkan Bella mengoceh di sampingnya. Jujur saja ia kesal kenapa Bella harus cantik dan seksi, Bella itu paket lengkap, semua hal yang diinginkan lelaki ada padanya. Kulit putih mulus, rambut panjang indah, wajah cantik yang menawan, dan tubuh ideal yang berisi, sangat cantik. Siapapun pasti menyukai Bella, jangankan laki-laki, perempuan saja iri. Benar kata laki-laki tadi, punya pacar seperti Bella memang harus dijaga baik-baik karena banyak yang mengincarnya. Seperti tadi, baru ditinggal buang air kecil saja, Faren sudah kecolongan.

FABEL {ON GOING}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang