45. Lose

525 15 0
                                        

Bunyi ketukan sepatu pantofel yang cepat itu menggema di stasiun menandakan sang pemilik sepatu tengah berlari. Paras tampannya menarik perhatian beberapa orang. Faren dengan jas hitam dan kemeja putihnya merutuki diri saat ia terlambat satu jam untuk menjemput Bella.

Sampai di dalam stasiun, Faren berhenti sejenak untuk mencari keberadaan Bella karena ponsel gadis itu sudah mati, ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung, apa Bella sudah pulang? Namun pemikiran seperti itu langsung pupus begitu ia melihat seorang perempuan berambut panjang yang tengah duduk di salah satu kursi panjang dengan menunduk, tas biru yang berada di bawah kakinya menambah keyakinan Faren jika itu memang Bella.

Langkah kaki Faren melangkah cepat menghampiri Bella, "Sayang, maaf aku telat, tadi lagi banyak kerjaan yang aku urus, kamu-" kalimat Faren berhenti begitu Bella mendongak menatapnya, matanya sedikit sembab dan ia terlihat kacau.

Faren langsung berjongkok dengan menumpu pada satu kaki, "Hey..." kedua tangan Faren menangkup wajah Bella.

Bibir merah ranum itu melengkung ke bawah, "Maaf..." lirihnya.

Dahi Faren mengernyit dalam, "For what? Harusnya aku yang minta maaf, aku telat banget jemput kamu, kamu lama banget pasti nunggunya di sini, aku minta maaf, kerjaan aku lagi banyak sampe ga sempet liat HP, maaf Sayang."

Air mata Bella kembali turun membuat Faren kebingungan, "Hey... Ssttt don't cry Babe. I'm so sorry." Faren mengusap air mata Bella menggunakan punggung tangannya.

Bella menatap Faren yang begitu tulus menatapnya, wajah lelaki itu terlihat lelah, namun Faren seperti mencoba menyembunyikannya. Raut rasa bersalahnya juga begitu kentara tampak di wajah Faren karena telat menjemputnya, padahal ia tak masalah, ia juga bisa mengerti jika Faren saat ini sedang sibuk-sibuknya mengurus perusahaan. Dengan gerakan pelan Bella menurunkan kedua tangan Faren yang menyentuh wajahnya, "Aku kalah..." ujar Bella dengan menunduk dan menggenggam kedua tangan Faren.

Untuk beberapa saat Faren terdiam, sedikit ada rasa lega begitu mengetahui Bella menangis bukan karena terlalu lama menunggunya, bukan karena kecewa padanya. Namun karena hasil olimpiadenya yang tak sesuai dengan harapan.

Faren menghembuskan nafas panjangnya lalu sedikit berdiri untuk memeluk Bella, Bella pun membalasnya dengan erat, ia menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Faren, "It's okay, menang dan kalah itu hal biasa Sayang, itu wajar. Kamu bisa coba lagi lain waktu, akan ada banyak kesempatan buat kamu. Kamu kalah bukan berarti kamu engga mampu, mungkin karena kamu belum beruntung aja." Faren mencium pelipis Bella dan mengelus kepalanya.

"Aku kecewain kamu." kata Bella dengan suara yang teredam.

"Engga, aku engga kecewa, aku bangga sama kamu, kamu udah hebat, kamu pinter, engga ada yang perlu dikecewain. Pacar aku udah keren banget." Faren menunduk untuk melihat wajah Bella yang bersembunyi di ceruk lehernya itu, ia mengelus sebelah pipinya dan mengecup keningnya. "It's okay Sayang, engga apa-apa, kamu kalah itu engga akan merubah apapun. Kamu udah berusaha, mungkin emang bukan sekarang kamu menangnya. Aku engga kecewa kamu kalah, aku cuma bakal kecewa kalau kamu berhenti berusaha, ya?"

Bella mengangguk pelan di pelukan Faren, wajah Bella yang basah akan air mata terlihat lucu bagi Faren. Karena tak kuasa menahan gemas, akhirnya Faren kecup bibirnya, "Udah, jangan sedih lagi, semuanya baik-baik aja."

Begitu sudah lebih tenang, Bella melerai pelukannya dan Faren membantunya berdiri, rambutnya yang sedikit berantakan dirapihkan dengan telaten oleh Faren, begitupun dengan wajahnya yang masih terdapat sisa air mata, Faren mengusapnya dengan lembut kemudian mengecup keningnya lagi. "Kita pulang, hm? Udah malem, kamu pasti capek banget." kata Faren sembari merengkuh pinggang Bella. Bella hanya mengangguk patuh.

FABEL {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang