Hujan melanda kota sejak jam 3 sampai jam 5 subuh, membuat cuaca pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya. Bau petrichor masih bertahan, membawa ketenangan bagi siapapun yang menciumnya.
Setelah semalam berbincang dengan Bundanya, hari ini akhirnya Faren putuskan untuk menemui Bella lagi. Terhitung sudah lima hari mereka berjarak, jadi cukup. Faren tak tahan lagi rasanya. Ia tersiksa, sehari tak memeluk Bella rasanya begitu hampa. Ia tak sanggup jika ini bertahan lebih lama, apalagi menahan kesal setiap kali melihat Bella dan Arga dekat. Persetan apapun urusan mereka, Faren tetap tak suka.
Meskipun setiap tengah malam Faren selalu menyelinap ke apartemen sekedar untuk memastikan perempuan itu aman dan mencuri kecupan darinya, itu tak membuat Faren puas, ia tak bisa terus begini, ia harus kembali membicarakannya dengan Bella.
Gedung tinggi dengan ratusan apartemen menjadi tempat berpijak Faren kali ini, ia berdiri di depan pintu apartemen miliknya. Sebelum masuk, ia menarik nafas panjang, memantapkan diri, ia harap kemarahan perempuan itu sudah reda.
Sedangkan di balkon, sang penghuni apartemen tengah berdiri menikmati dinginnya cuaca pagi ini. Matanya terpejam, membiarkan rambut panjangnya melambai kecil terkena angin.
Meski fisiknya terlihat tenang, tapi sebenarnya ia kacau, dalam dirinya berantakan. Ia memendam semua perasaan menyakitkan itu seorang diri, tak membaginya pada siapapun.
Break dengan Faren bukanlah ide bagus, karena setiap hari ia merindukan lelaki itu, ingin memeluknya, ingin menangis di dekapannya, ingin tidur dengan tangan yang melilit perutnya. Membuat ia selalu merasa nyaman, aman, dan tenang.
Ingin rasanya Bella ungkapkan semua yang mengganggu pikirannya, ingin ia katakan pada Faren jika Nina menindasnya, agar Faren bisa melindunginya seperti biasa. Tapi itu tak mungkin terjadi, kali ini ia harus menghadapinya sendirian.
Beberapa hari ini ia memikirkan banyak hal, memikirkan bagaimana mengakhiri hubungan dengan Faren, hubungan yang tak pernah berjalan dengan buruk ini, hubungan yang dijalani dengan seimbang ini, tiba-tiba harus diakhiri begitu saja.
Alasan apa yang harus Bella katakan? Konflik apa yang harus dia buat? Faren terlalu sempurna untuk disalahkan, hubungan mereka terlalu baik untuk dikacaukan, terlalu seimbang untuk dirusak.
Dan Bella, terlalu mencintai Faren untuk meninggalkan lelaki itu. Banyak rencana yang sudah Bella susun, banyak hal yang sudah Bella atur, tapi Faren terlalu baik untuk ia sakiti. Faren terlalu berarti dalam hidupnya, terlalu berharga, terlalu tulus untuk ia hianati seperti ini.
Tapi jika ia tak melakukan ini, hidup Faren akan semakin rumit karenanya. Ia tak berguna untuk Faren, yang ada hanya mengacaukan hidupnya, merusak segalanya, membuat Faren jadi tidak berarti, ia hanya menyusahkan Faren, membebaninya lebih banyak.
Saat pikirannya tengah sibuk beradu dan batinnya berperang, sebuah tangan tiba-tiba melingkari perutnya disusul dengan dekapan tubuh besar seorang lelaki yang mampu melindunginya.
Bella terkejut hingga spontan membuka mata, tapi dari bau parfumnya, tanpa menoleh pun ia tau siapa yang sedang memeluknya saat ini.
Tak ada suara yang masuk ke indra pendengaran mereka kecuali hembusan pohon-pohon dan ramainya jalan raya di pagi hari.
Bella bengong, ia tergemap, mulutnya tak terbuka sedikitpun, pandangannya lurus kedepan, merasakan kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan.
Sedangkan Faren memejamkan matanya, menghirup aroma Bella dalam-dalam, bau rambutnya yang segar membuat Faren lebih tenang, lebih semangat menjalani hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Teen Fictionkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
