61. Three Love Story

750 33 35
                                        

    Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Jalanan mulai sepi, hanya sesekali motor lewat, dan suara jangkrik mulai mengambil alih suasana.

    Lampu-lampu toko sudah banyak yang padam, kecuali satu, salon kecantikan yang masih menyala terang di antara deretan butik dan toko kosmetik. Di dalamnya, Kania sedang membereskan handuk-handuk, menyapu sisa rambut pelanggan, dan menggulung kabel hairdryer. Wajahnya lelah, tubuhnya letih. Tapi ia tetap melakukannya, karena ini satu-satunya yang dia punya sekarang. Tempat ini bukan sekadar tempat kerja, tapi tempat dia bertahan hidup.

     Salon kecantikan Kania berada di pusat kota, tempat yang ramai, dan dekat dengan kawasan hiburan malam. Normalnya tutup jam 10 malam, tapi jika sedang ramai sampai harus lembur, maka bisa sampai jam 12 malam.

    Tadi ia sudah mengabari Damares jika hari ini ia harus lembur agar Damares tak menjemputnya tepat waktu. Dan sepuluh menit lalu ia baru mengabari Damares jika ia sudah akan pulang.

     Pintu salon bergemerincing ringan saat ia mendorongnya keluar. Udara malam menyambut dingin. Ia menarik napas panjang, mengusap lengan polosnya karena memakai baju lengan pendek dan menenteng tas kecil yang hanya berisi dompet serta ponsel. Baru saja ia berbalik badan, tapi kakinya langsung mengurungkan langkah kala melihat ada seseorang berdiri di bawah cahaya lampu jalan.

    Seseorang yang tak seharusnya ada di sana.

   Kania terpaku. Dunia seakan membeku. Wajah yang sama sekali tak ingin ia lihat justru terpampang nyata di depan matanya. Dia adalah...Raka, suaminya.

   Raka berdiri dengan jaket gelap dan wajah yang terlihat tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. Terlalu enteng untuk seseorang yang bahkan tidak datang ke rumah sakit saat anak mereka mati.

   "Ngapain lo di sini?" Kania bertanya dengan nada dingin.

    Tapi lelaki itu justru tersenyum kecil, seolah ia tak pernah memiliki masalah dengan Kania, "Aku cuma pengen ngobrol."

    "Gue ga ada waktu!" ketus Kania kemudian hendak pergi dari sana, tapi tangannya segera dicekal oleh Raka yang langsung ditepis Kiara.

   "Lo apaan sih?!"

    Dengan nada lembutnya ia berujar, "Kania... aku cuma pengen ngobrol bentar. aku udah nunggu kamu dari tadi sore."

    "Lo pikir gue peduli? Harusnya lo udah hilang dari hidup gue sejak lo bunuh anak gue! Lo pikir gue seneng liat lo di sini? Gue bahkan berharap lo mati, Rak."

   Suara Kania gemetar. Matanya mulai memanas. Bukan karena rindu. Bukan karena cinta. Tapi karena trauma, karena luka, karena kehadiran laki-laki itu mengingatkan dia pada semua yang sudah hancur.

    Raka masih berusaha membujuk Kania dengan sabar, "Sayang, aku tahu aku salah. Aku tahu aku nyakitin kamu. Tapi aku nggak pernah berhenti mikirin kamu. Aku nyesel Nia. Aku pengen kita baikan-"

    Kania tertawa dingin, penuh luka, "Sayang? Lo dateng-dateng manggil gue Sayang? Setelah lo ninggalin gue, setelah lo bikin anak gue mati, lo manggil gue Sayang?"

    Ia benar-benar tak habis pikir dengan lelaki yang masih berstatus suaminya ini, "Gue bukan cewek bego Raka. Lo ninggalin gue waktu gue hamil tujuh bulan. Gak ada kabar. Gak ada minta maaf. Gak ada tanggung jawab. Terus sekarang lo muncul kayak pahlawan kesiangan?"

   Air mata mulai menggenangi mata Kania, tapi dia tahan agar tak semakin deras keluar. Dia berdiri tegak. Ini bukan air mata rindu. Ini air mata amarah. Karena selama tujuh bulan dia ngandung dengan segala rasa takut, segala usaha untuk mempertahankan kandungannya, Raka justru tidur dengan perempuan lain. Sementara dia, tiap malam duduk di kamar sepi, merintih pelan karena perutnya nyeri dan pikirannya kalut.

FABEL {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang