"Kamu kenapa sih Kak?! Aku ga salah!"
"Kamu yang kenapa, kenapa kamu meledak-ledak kaya gini? Ada apa? Kenapa sampe buat keributan kaya gitu? Ada masalah apa sampe kamu bisa berantem kaya gitu?"
Bella menatap Faren marah, "Aku ga akan bikin keributan kalau bukan dia yang mulai Kak, aku-" ucapan Bella terhenti kala Faren mendekapnya begitu saja.
"Tenang... Okay? Boleh bicara yang baik ga?" Faren mengelus kepala sampai punggung Bella.
Bella diam di pelukan Faren, menarik nafas panjang, kemudian membuangnya, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, menurunkan emosinya, dan membuang kekesalannya.
Perlahan Bella membalas pelukan Faren, menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Faren. Aroma tubuh Faren membantu membuatnya jadi jauh lebih tenang.
Selang beberapa menit saat dirasa Bella mulai tenang, Faren melerai pelukannya dan mendudukan Bella di bangku panjang yang ada di sana, ia pun ikut duduk di sebelah Bella.
Dengan lembut Faren bantu merapikan rambut Bella, kepangannya rusak dan berantakan, Faren juga mengusap wajahnya yang basah entah karena apa, "Udah tenang?" tanya Faren dengan menggenggam dua tangan Bella.
Bella diam saja ditanya seperti itu, ia lebih memilih menatap wajah tampan Faren.
"Kenapa sampai kaya gitu tadi? Ada masalah apa?" Faren bertanya dengan lembut dan hati-hati.
"Kamu yang bilang aku ga boleh diem aja, kalau dia pukul aku harus aku pukul balik, kalau dia ngatain aku ya harus aku katain balik, bahkan kalau bisa harus lebih parah."
"Jadi dia ngatain kamu?"
"Kamu."
Kening Faren mengernyit, "Gimana?"
"Kamu marah ga kalau denger orang ngatain aku?"
"Marah."
"Aku juga bakal marah kalau aku denger ada yang ngatain kamu."
Faren menatapnya lama, apa kali ini Bella yang sedang membelanya?
"Aku ga akan bikin ribut kalau dia ga mulai duluan, dia siram aku pake jus jeruk, dia juga dorong aku. Ya aku bales siram dia sama tampar dia, dia malah makin menjadi tiba-tiba jambak aku."
"Kamu marah karena dia ngatain aku? Bukan ngatain kamu?"
"Ngatain aku juga."
Faren menghembuskan nafas panjangnya, ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan mengusap wajah Bella.
"Kenapa kamu diem aja?" tanya Bella.
"Aku bingung harus bilang apa, kamu engga salah, tapi juga engga bener."
"Kamu marah?"
"Jelas aku marah, engga perlu ditanya, aku engga suka kamu luka kaya gini."
"Bukan soal luka. Aku tanya kamu marah gegara aku ribut di kantin tadi apa engga?"
"Marah, aku engga suka kamu ribut kaya gitu, kaya bukan kamu. Bella yang aku kenal itu selalu tenang, engga meledak-ledak kaya tadi, apalagi sampe ngumpatin orang begitu."
"Dia duluan yang anjing anjingin aku, ya aku anjing anjingin balik."
"Kamu bisa bilang ke aku kalau kamu ngerasa terganggu, biar aku urus, engga perlu kamu sendiri sampe kaya gini."
"Aku gamau ngandelin kamu terus, aku juga bisa sendiri."
"Aku ini cowo kamu, wajar kalau kamu ngandelin aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Teen Fictionkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
