Tak! Tak! Tak! Tak!
Tangan besar Faren bergerak cepat merakit rubik kotak di tangannya, memutarnya untuk mendapatkan warna yang sama.
Tit! Tit!
Tangan Faren berhenti memainkan rubiknya begitu timer yang ia pasang di handphone sudah berbunyi. Dalam waktu lima menit, Faren tak berhasil merakit rubik itu sampai semua warnanya menjadi senada. Padahal biasanya ia bisa merakit rubik itu hanya dalam waktu 30 detik. Kini 5 menit saja tak cukup untuknya.
PRAK
Faren melempar rubik berbentuk kotak itu ke dinding sampai mainan rubik itu hancur. Ia sudah mengulangnya 3 kali, tapi tetap tidak berhasil merakit rubik itu dengan benar.
Ia mengacak rambutnya frustasi, masalah ANOD benar-benar berhasil mengusik ketenangannya.
"Fine!" ucapnya.
Faren berdiri dari duduknya, ia segera mengais kunci motor dan jaketnya dengan kasar. Faren menutup pintu kamarnya keras, berjalan cepat di tangga untuk segera keluar rumah.
"Faren." panggilan lembut itu menghentikan langkah cepat Faren. Faren sontak menoleh.
Sifa yang sedang membawa segelas air putih itu menghampiri Faren dengan melirik jam dinding, "Mau kemana tengah malem gini Nak?" tanya Sifa, ia meletakkan segelas air putih di meja makan lalu mengusap keringat di dahi Faren yang terlihat bercucuran.
"Aku mau keluar sebentar, ada urusan." jawab Faren.
Jari lentik dan tangan lembut Sifa membelai pipi Faren, "Engga bisa besok aja urusannya?" tanya Sifa lembut.
Tangan besar Faren menggenggam tangan Sifa yang mengelus pipinya, "Sebentar aja Bunda." izin Faren.
"Ini udah lewat tengah malem, beneran ga bisa besok aja?"
Faren memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang, ia tak ingin kelepasan berbicara dengan Bundanya sebab pikirannya yang sedari pulang sekolah tadi sudah kacau. Ia takut justru marah pada Sifa.
"Refa udah tidur Bun?" tanya Faren mengalihkan topik pembicaraan.
"Udah." jawab Sifa. "Kamu mau kemana?" tanya Sifa lagi.
"Markas ANOD." jawab Faren jujur, ia memang tak terbiasa berbohong kepada orangtua, orangtuanya pun tak pernah mengajari Faren untuk berbohong.
Begitu tau tujuan Faren pergi, Sifa langsung melepaskan pegangan tangannya pada tubuh Faren, ia menatap Faren tersenyum. "Hati-hati, jangan pulang terlalu pagi, besok kamu sekolah." pesan Sifa.
Faren terdiam, Bundanya mengizinkannya pergi ke markas ANOD. Baiklah, mungkin ini memang keputusan yang harus Faren ambil.
Faren memeluk tubuh Sifa yang lebih pendek darinya itu, "Kalau ada apa-apa langsung telpon Faren, Faren pergi dulu." pamit Faren, sebelum pergi ia mencium punggung tangan Bundanya dan juga mengecup pipinya sejenak. Setelahnya ia pergi begitu saja.
••***••
Motor Faren berhenti di depan markas ANOD, di depan markas ANOD pula sudah ada Arya dan Damar yang menunggu kedatangan Faren.
Faren turun dari motornya dan menghampiri mereka. "Udah lama?" sapa Faren.
"Lo ngapain sih Ren tengah malem lewat begini nyuruh kita ke rumah angker?" tanya Damar sebal, ia sedang nyenyak-nyenyaknya tidur malah mendapat spam telpon dari Faren yang tak kunjung berhenti sampai Damar mengangkatnya, begitupun dengan Arya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FABEL {ON GOING}
Teen Fictionkisah tentang seorang laki-laki yang memiliki iris mata tajam, wajah tampan, kaya raya, otak pintar dan populer. hidupnya sangat sempurna karena dia adalah sosok tokoh utama dalam cerita ini. DEAN FAREN ALFAHRI, itulah nama yang diberikan padanya s...
