53. Trust?

381 12 0
                                        

    "Makasih ya Bunda, Bunda juga baik-baik di sana, jaga kesehatan."

   Raut kebahagiaan begitu nampak kala Bella sedang melakukan panggilan video call dengan Refa dan Sifa itu. Tadinya Refa yang menelponnya karena selama ia di Amerika, Refa sering sekali menghubunginya, hampir setiap hari, tapi tadi Sifa ikut bergabung untuk menanyakan bagaimana keadaannya dan juga Faren selama empat hari di Amerika ini.

   Bella menjawab jika keduanya baik-baik saja, tak ada masalah, pekerjaan Faren juga berjalan dengan lancar yang membuat Sifa jadi tenang di sana.

   Setelah berbincang cukup lama, akhirnya mereka menyudahi panggilan tersebut. Senyum Bella belum luntur, ia tersenyum melihat ponselnya yang menampilkan roomchatnya dengan Refa itu.

   Faren memang sumber kebahagiaannya, tak hanya sebuah kasih sayang, cinta dan juga materi yang diberikan lelaki itu, tapi juga keluarga.

   Kalau Bella kehilangan Faren, itu artinya Bella kehilangan segalanya, ia hanya akan sendiri, tanpa siapapun, seperti dahulu.

   Senyum yang sejak tadi terpatri mulai pudar memikirkan kembali perjanjiannya dengan Nina, jika saja ia bukan orang miskin, jika saja ia punya harta dan tahta seperti Nina, ia pasti tak akan kehilangan Faren, ia juga pasti akan bahagia.

   Bella selalu merasa jika Tuhan tidak pernah adil padanya, tidak ada satupun yang Bella miliki, orangtua, materi, kasih sayang, dan cinta. Sekalinya diberikan, pasti tidak pernah bertahan lama.

      Karena larut dalam kesedihan, Bella sampai tidak menyadari jika Faren berdiri di belakangnya.

   Di balkon hotel yang Faren dan Bella tempati, Faren terkejut melihat Bella menunduk dengan air mata yang mengalir dari pelupuknya.

   "Sayang?" Faren langsung memutar tubuh Bella agar menghadapnya.

   Bella terkejut saat Faren tiba-tiba saja ada di belakangnya, ia segera mengusap air matanya membuat Faren bertanya, "Hei? Are you okay? Kenapa Sayang? Ada masalah?"

    Gelengan kepala yang dilakukan Bella terlihat meragukan, "Engga, aku gapapa."

     Kursi yang tersedia di balkon menjadi tempat Faren mendudukan Bella, sedang laki-laki itu berjongkok dengan bertumpu pada salah satu kakinya, kedua tangan Bella digenggamnya dengan lembut untuk memberi ketenangan pada perempuannya, "Sayang, bilang sama aku, ada yang ganggu kamu? Ada yang ganggu pikiran kamu? Ayo bilang ke aku, jangan bilang gapapa tapi nangis. Kenapa?"

     Tatapan Bella terkunci pada manik mata Faren, dari gestur tubuh, tatapan mata, serta semua perlakuan Faren begitu memancarkan kasih sayang untuk Bella, sangat jelas terlihat jika laki-laki itu begitu mencintai Bella, Bella tak tau, apa akan ada orang lain yang mencintainya sehebat Faren? Apa ia akan mendapatkan pengganti Faren? Mungkin tidak, itu mustahil, ia tak akan menemukan sosok Faren pada orang lain.

   "Kak..." suara Bella terdengar pelan, namun Faren sabar mendengarnya.

   "Maaf..."

   Kerutan di dahi Faren muncul, "Kenapa Sayang? Hei... Jangan nangis, aku ga akan marah kalau kamu bikin salah, it's okay, coba jelasin ke aku, aku bakal ngerti, jangan takut."

   Air mata Bella semakin deras turun, perempuan itu menunduk, melihat genggaman tangan Faren yang melingkupi tangannya, seolah ingin memberitau jika selama ada Faren, Bella tak perlu takut akan hal apapun, Faren selalu bersamanya.

    "Kenapa ya Kak... Aku harus lahir."

    Faren sedikit merendahkan dirinya untuk memperhatikan wajah sang kekasih yang sedang menunduk, ia menatap Bella serius, ia terganggu dengan ucapan Bella barusan, tapi ia ingin mendengar alasan Bella mengucapkan kalimat itu.

FABEL {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang