60. Break

531 32 701
                                        

Suasana sekolah siang ini masih ramai, banyak orang berlalu lalang untuk pulang ke rumahnya masing-masing, tapi di satu sudut taman belakang yang dihuni dua orang, justru sunyi.

Mereka berdiri saling berhadapan. Bukan dengan senyum, tapi dengan mata yang dingin dan lelah.

"Kapan urusan kamu sama geng kamu itu selesai?" tanya Bella yang membuka percakapan, suaranya pelan tapi tajam.

Faren diam. Bahunya sedikit turun, seperti ada beban yang baru saja ditambah. Dia tahu pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan asal. Karena jawaban jujur akan membuat Bella kecewa. Tapi bohong juga bukan solusi.

"Sebenernya udah selesai," katanya akhirnya.

Bella ngangguk pelan, jadi Faren telah berbohong padanya, padahal tadi Faren sempat bilang jika urusannya belum selesai, "Tapi kamu gak keluar juga."

Napas Faren terdengar berat. "Aku gak bisa langsung ninggalin mereka, Bel..."

"Kenapa?"

"Karena mereka bukan cuma temen. Mereka udah kayak keluarga. Banyak diantara mereka yang hidupnya kacau, enggak baik, engga adil, markas itu udah kayak rumah buat mereka, dan orang-orang yang ada di dalamnya, itu semua keluarganya, Bella. Mereka punya hidup di sana yang... kamu mungkin gak bisa ngerti. Geng yang kamu bilang suka nyari keributan itu, ga bener-bener cuma nyari ribut. Tapi mereka juga nyari rumah buat pulang, nyari keluarga buat bisa dirangkul, buat dijadiin sandaran."

Bella menatapnya. Wajahnya datar. Tapi matanya mulai berkaca-kaca. "Dan kamu bilang kamu bakal lepas semua itu setelah urusan kamu selesai. Kamu yang bilang, bukan aku."

"Aku tahu," jawab Faren pelan, "Tapi ternyata gak segampang itu..."

Lalu hening. Keduanya sama-sama bungkam, Bella seperti telah kecewa pada Faren hingga tak ingin melihatnya lagi rasanya. Awalnya Faren membohonginya, dan sekarang Faren tak bisa menepati janjinya. Masalah ini memang tak besar, tapi justru dari masalah kecil yang seperti ini, bisa merusak hubungan mereka. Kebohongan kecil tetaplah kebohongan, dan ingkar janji tetaplah orang yang tak bisa dipercaya.

Bella mundur satu langkah, "Kamu tahu aku gak pernah suka kamu gabung sama mereka. Aku gak peduli sekuat apa pun alasan kamu. Geng motor tetap aja... ya tempat yang menurut aku ngerusak kamu."

"Enggak semua kayak gitu, Bel-"

"Tapi pikiranku gak bisa berubah," potongnya. "Aku gak bisa nyaman jalan sama cowok yang tiap hari masih menyandang status ketua geng, nongkrong sampe malam, kumpul-kumpul ga jelas, berantem, nyerang orang, berebutan kekuasaan yang ga akan dibawa mati. Kamu cuma ngejar validasi kalau kamu itu hebat. Tapi di mata aku enggak sama sekali! Geng motor itu sampah!"

Faren menatap Bella serius, "Bel, kamu berlebihan."

"Apa! Berlebihan apa? Berlebihan yang kaya gimana?" Bella menantang, emosinya naik, ia lelah berbicara pada Faren masalah ini, Faren tak pernah mau mendengarnya sedikitpun, "Apa menurut kamu kaki aku ketusuk pisau waktu itu ga berlebihan? Apa menurut kamu aku diculik dan dipegang-pegang waktu itu ga berlebihan Kak? Aku tau kok apa yang mereka mau! Mereka mau kamu turun dari jabatan kamu itu, mengaku kalah, dan kamu bubarin geng itu. Sedangkan kamu masih mempertahankan itu karena apa? Karena ego kamu yang ga ada habisnya itu."

"Ini bukan cuma masalah ego Bella, ini harga diri. Kejadian kamu diculik waktu itu emang karena masalah geng, tapi siapa yang ngamanin kamu waktu itu kalo bukan ANOD? Kalau bukan karena mereka, kamu bukan cuma bakal dipegang-pegang tapi lebih daripada itu. Dan aku ga pernah butuh validasi, aku cuma enggak suka diganggu."

Bella menangis, "Tapi kalau kamu mau ngalah dan lepasin ini semua, semuanya bakal selesai Kak. Kamu ga perlu ribut, berantem, bahkan ngorbanin orang-orang terdekat kamu, termasuk diri kamu sendiri!"

FABEL {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang