25. Stranger

721 39 11
                                        

    Faren melepas dekapannya pada Bella saat merasa dia ada dalam posisi aman dari orang-orang itu. Ia menatap Bella yang wajahnya sudah pucat dan lemas, sepertinya Bella kehabisan banyak darah. Mata Faren beralih melihat kaki Bella yang terus mengeluarkan darah dengan deras tanpa henti.

   "Bella, Bel jangan tutup mata lo, liat gue!" kata Faren dengan menangkup wajah Bella.

    "Sakittt kak..." lirih Bella.

   Faren menyandarkan Bella pada dinding lalu melepas seragam putihnya dan mengikatkannya pada kaki Bella agar darahnya sedikit tertahan dan tak terus keluar.

    "Tahan Bel." kata Faren "Gue ga akan maafin diri gue kalo gue gagal jagain lo, gue mohon bertahan." kata Faren dengan keringat di sekujur tubuhnya.

   Lelaki itu jadi hanya menggunakan kaos hitam tanpa lengan, ia tak peduli jika seragamnya akan terkena darah Bella, yang penting sekarang adalah keselamatan Bella.

    Faren melepas tas yang dipakai Bella, ia membukanya, mencari botol minum. Setelah dapat, Faren membantu Bella meminumnya.

   "Minum dulu." katanya dengan membantu Bella minum.

    Setelahnya Faren memeluk Bella lagi, ia menyandarkan kepala Bella ke dadanya dan mendekap kepala Bella. "Maaf, maafin gue, maafin gue bikin lo kaya gini." ucap Faren penuh penyesalan.

    Tangan Bella meremas lengan Faren, "Kak, sakit..."

    "Hp lo mana?" minta Faren.

    Bella memegang saku roknya membuat Faren langsung merogohnya karena tangan lemas Bella tak kunjung mendapatkan ponselnya. "Sorry." kata Faren dengan mengambil ponsel Bella di saku roknya.

   Faren bingung hendak menghubungi siapa, sedangkan nomor yang ia hafal hanya nomor Daddynya. Namun untuk sekarang ini tak mungkin jika Faren meminta tolong pada Daddynya, mungkin Derren justru semakin marah padanya karena ini masih bersangkutan dengan gengnya.

   "Bella lo ga punya nomor siapapun selain gue?" tanya Faren kesal saat melihat kontak yang ada di hp Bella hanya dirinya.

    Bella diam tak menjawab, tenaganya benar-benar sudah habis. Faren berdecak kesal, sekarang ia harus bagaimana dengan keadaan Bella yang sudah tak memungkinkan ini?

    Refa. Ya! Bella punya nomor Refa! Faren seperti menemukan secercah harapan saat mendapati kontak nomor Refa yang belum sempat di save oleh Bella itu. Tanpa berlama-lama Faren langsung menelponnya.

    Panggilan pertama tak dijawab membuat Faren meremas ponsel itu. "Refa, angkat please, Abang butuh kamu."

   Panggilan kedua pun sama, namun panggilan langsung diangkat saat Faren menelpon untuk ketiga kalinya.

   "Hal-"

   "Kamu ngapain aja sih hah lama banget!" semprot Faren begitu sambungan terhubung.

   "Hah? Abang? Apaan sih Bang tiba-tiba marah ga jelas."

   "Refa, Abang ga punya banyak waktu, dateng ke sini sekarang, bawa sebagian anggota ANOD, jangan ke sini sendiri takutnya mereka masih ada di sekitar sini, Abang sharelock sekarang. Jangan lama." kata Faren lalu memutus sambungannya dan mengirimkan lokasi di mana dirinya berada saat ini.

   "Bella tahan okay, gue bakal bawa lo ke rumah sakit sebentar lagi." kata Faren dengan mengelus sebelah pipi Bella.

   "Bella jangan tutup mata lo, lo harus tetep sadar gue mohon." Faren menepuk-nepuk pelan pipi Bella agar gadis itu tetap membuka matanya. Ia membuat bella supaya tetap sadar karena takut gadis itu kenapa-napa.

FABEL {ON GOING}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang