04 ~ SHIFT KERJA

15.1K 662 2
                                        

Anna senang sekali dengan pekerjaan barunya, meski dapat dibilang bahwa pekerjaan yang ia jalani saat ini jauh sekali dengan pendidikan terakhir yang pernah ditempuh, yaitu kedokteran.

Meski hany berada satu semester. Setidaknya, Anna sempat merasakan duduk di bangky kuliah. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan menikah muda. Itu adalah keputusan berat yang harus ia pilih. Rela melepaskan mimpinya untuk membangun istana bersama sang pangeran.

Menjadi operator telepon di perusahaan tersebut. Pekerjaan Anna bisa dibilang gampang, ia hanya perlu duduk dan menjawab telepon. Ia belum diberi banyak kerjaan, karena statusnya masih pegawai baru.

"An, kopi sama roti." Rekan kerjanya yang bernama Tika meletakan plastik putih di atas meja Anna.

"Dari siapa?"

"Titipan dari Mbak Dona."

"Oh, ya, makasih, Tika."

Ekor mata Anna bergerak mengikuti Tika, wanita berlensa cokelat itu menjadi orang yang menyapanya pertama kali dan meminta nomer teleponnya.

Ia sama sekali tidak menyangka, bisa duduk di kursi empuk yang dapat berputar 360 derajat itu, menggunakan seragam dan tag nama yang menempel di dada kanannya.

Delapan jam bekerja telah berlalu, Anna melirik Tika yang sedang meregangkan otot dan sendi-sendi tubuhnya. Perempuan yang lebih pendek darinya itu, mengemas barang-barang lalu berpamitan lebih dulu.

Melihat yang lain beres-beres, Anna melakukan hal yang sama. Ia menoleh pada jam tangan yang menunjukan pukul 16.01. Itu artinya shift pagi-sore telah selesai. Untuk satu minggu ke depan, Anna masih ada di shift yang sama.

Lift terbuka, Anna tersenyum ke arah seseorang yang sedang tersenyum lebar padanya. Wanita di dalam lift itu tampak sibuk dengan banyak berkas di pelukannya.

"Masuk, An!" kata Dona.

Anna menurut, tidak lama pintu lift tertutup, hanya ada mereka berdua di dalam ruang sempit itu.

"Udah selesai kerja, ya?"

"Iya, Mbak." Anna tidak jadi memencet lift menuju lantai satu, ia menoleh pada Dona, lalu berinisiatif mengambil beberapa barang yang sedang di bawa sahabatnya itu.

"Nggak usah repot, An!" tolak Dona.

"Nggak apa-apa, Mbak. Aku bantuin," sahut Anna tidak keberatan.

Anna mengekori Dona menuju ruangan yang berada di lantai 10, masuk ke dalam ruang pribadi sahabatnya itu. Meletakan berkas-berkas tersebut di atas meja.

"Mau minum teh dulu, An?" tawar Dona.

Anna menolak, ia bisa melihat bahwa Dona sangat sibuk. Melihat fakta bahwa wanita bercepol acak itu belum pulang, itu tandanya Dona sedang lembur.

"Nggak usah Mbak, aku langsung pulang aja."

Anna bergerak menuju pintu keluar.

"Oh, iya, Mbak Dona. Makasih buat kopi dan rotinya."

"Iya, sama-sama."

Anna keluar dari ruangan Dona yang berada di lantai 10, menuju lantai dasar.

Namun, saat lift terbuka Anna dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita cantik dengan aroma semerbak yang membuatnya bergedup kencang.

Anna menelan saliva, tangannya dengan cepat meraba ponsel yang ada di dalam tas selempangnya. Dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali mengajak wanita cantik itu untuk mengambil foto dengannya.

Meski mata cantik itu ditutupi kacamata, Anna dapat mengenali wanita yang ia lihat beberapa hari lalu dari layar kaca bioskop.

Dia Amanda Shopia, pemeran utama dari film Young Lady, yang berhasil membuat Anna menangis selama akhir pekan.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang