"Anna hilang ingatan?" Pria berjas putih yang sedang duduk di sofa menoleh pada sang sahabat, sekaligus pemilik ruangan yang masih bekerja satu profesi dengannya.
"Sepertinya, kondisi Anna kali ini agak memprihatinkan." Fabian memberitahukan. Ia menyuguhkan kopi untuk Alvaro.
Alvaro mengusap wajahnya gusar, ada rasa cemas, khawatir dan peduli yang tidak bisa ia jelaskan.
"Apa ingatannya bisa kembali lagi?"
"Kalau untuk itu, bisa aja. Tapi, tergantung pasiennya dan sedalam apa traumanya hingga membuat otaknya ingin menghapus semua memori itu."
"Semua gara-gara gue, Bi."
Fabian menepuk bahu Alvaro sekali. "Kalau lo masih peduli sama mantan bini lo, ngapain kalian berdua cerai? Gue benar-benar nggak ngerti sama jalan pikiran lo, Al!" Fabian mengutarakan unek-uneknya.
Siapapun bisa melihat dengan jelas bahwa seorang Alvaro masih mencintai Anna.
"Gue pikir awalnya, Anna bisa lebih bahagia lepas dari gue. Nyatanya, enggak. Gue juga nggak pernah menduga bahwa dia memilih bunuh diri nggak lama setelah perceraian kami."
Wajah kusut Alvaro menjelaskan semuanya, bahwa ia tidak baik-baik saja. Ada sebuah penyesalan besar yang sepertinya tidak bisa ia tebus.
"Coba lo pikirin posisi Anna. Pasti berat jadi dia. Dan lo, ngelepasin dia ... pasti dia hancur banget saat itu, Al."
Suara ketukan pintu menghentikan percakapan dua dokter itu. Fabian harus mengakhiri percakapan lebih dulu karena ada janji konsultasi dengan pasiennya.
Sementara itu, Alvaro berniat kembali ke ruang kerjanya setelah memeriksa Hana---pasien yang bersiap pulang setelah operasi sesar.
Alvaro menatap pintu kantornya yang bertuliskan dr. Alvaro Putra Agung Sp.Og.
Saat hendak membuka pintu, benda pipih di sakunya bergetar.
Diyana is calling.
Alvaro menatap panggilan tersebut cukup lama, sebelum yakin untuk menjawabnya.
"Halo, Na."
"Kamu mantan suamiku, kan?"
"Hm," deham Alvaro membenarkan.
"Kalau begitu ayo kita bertemu," ajak Anna terdengar penuh semangat.
"Baiklah. Tapi, aku masih ada janji konsultasi dengan dua pasien lagi. Setelah semuanya selesai aku bisa."
Tidak ada sahutan apapun lagi dari Anna, panggilan langsung diputus dari pihaknya.
•••
Setelah pekerjaannya selesai, Alvaro menemui Anna di restoran seafood ternama, yaitu Jea Resto.
Alvaro masih berada di luar restoran, dari kaca-kaca transparan itu, ia bisa melihat Anna yang tengah duduk seorang diri.
Wanita itu selalu cantik dan membuatnya berdebar.
"Coba lo pikirin posisi Anna. Pasti berat jadi dia. Dan lo, ngelepasin dia ... pasti dia hancur banget saat itu, Al."
Sekelebat bayangan mengenai ucapan Fabian muncul di otaknya. Apa yang dikatakan Fabian benar.
Pasti berat hidup sebagai Anna.
Dulunya, dia adalah wanita yang cantik, pintar, baik hati dan berasal dari keluarga berada yang kaya.
Mereka berdua bertemu di fakultas kedokteran, Anna adalah junior tahun pertama kala itu. Sementara, Alvaro adalah senior yang sebentar lagi menyelesaikan pendidikan S-1nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Life Memory (COMPLETED)
Cinta~•~ follow dulu sebelum membaca, thx. Amanda Shopia artis paling fenomenal dengan banyak skandal dan anehnya ia masih wara-wiri di dunia hiburan. Arogan dan angkuh, hanya wajah cantik bak dewi itu yang menjadi daya tariknya. Tapi, dibalik itu semu...
